Chipo Yang Spesial

Sri Purnama Sari yang lebih dikenal sebagai Chipo telah pergi bersama Bapa, Minggu 25 Mei 2025 di usia 33 tahun. Sebuah kepergian yang sulit dipercaya dan membuat kaget dan duka mendalam. Tuhan kiranya memberi penghiburan buat yang ditinggal.

Chipo tinggal dan melayani pekerjaan Tuhan di Solo. Salah satunya melalui bisnisnya: Nitisari, https://maps.app.goo.gl/QeMVMVNdyBfkFkfw9.

Satu kenangan dari Christina Nainggolan

Saya ingin menyampaikan cerita indah tentang Chipo, semoga menjadi inspirasi dan kenangan indah untuk semua teman dan keluarga yang ditinggalkan.


Pertama kali mengenal Chipo saat Click 2021 (versi pandemi, via Zoom), bukan karena satu grup, namun karena keisengan saya bersama Nita Sembiring untuk “mengunjungi” grup-grup lain setelah acara selesai.

Saat itu kami mengunjungi salah satunya grup yang dipimpin Mbak Fe. Ada Mega Purba, ada Gian Egbert, dan ada alm. Sri Purnamasari yang akrab dipanggil Chipo.

Mereka tentu kaget ada penyusup, namun mereka menyambut kami dengan ramah. Semenjak itu baik Nita maupun saya menjalin pertemanan yang baik dan erat dengan alm. Chipo.


Bulan Agustus 2023 kami mengunjungi alm. Chipo dan menginap di rumahnya, kami berkenalan dengan ibuknya dan ternyata saya pernah satu sekolah dengan kakaknya.

Selama 4 tahun mengenal Almarhumah, banyak cerita lucu dan suka duka yang kami alami bersama. Alm. Chipo adalah orang yang sangat mementingkan orang lain, selalu ingin berguna dan menolong orang lain walaupun alm. sendiri sedang tidak ada waktu atau kurang fit.

Bagi saya cinta kasih dan dedikasinya sangat mengagumkan.

Alm. Chipo juga seorang penyemangat yang luar biasa. Tak pernah tidak, dia selalu percaya akan kemampuan dan keberhasilan teman-temannya dan menjadi penghibur yang penuh pengertian dikala susah.


Pada momen hari Kartini tahun ini alm. mengirim quote di Instagram (kami sering sekali mengobrol lewat DM dan saling mengomentari story) yang intinya memberikan selamat kepada teman-temannya yang dia anggap ‘Kartini modern’, saya bilang, “Kartini, Chip, yang jauh dari kamu. Kamu yang banting tulang demi keluarga, sementara Kartini seorang anak bangsawan yang dilayani”.

Dia menjawab dengan bahasa Jawa yang intinya, “Aih, tau deh ah kakak ini bikin aku melambung aja”.

Saya bilang dengan sepenuh hati, “Well deserved.”


Dulu dia tidak pernah mau menerima pujian, namun sepertinya karena saya pernah menceramahi dia tentang harus mau dan bisa menerima pujian, akhirnya dia terbiasa juga saat saya puji. Dan waktu itu dengan senang dia pun akhirnya menerima pujian saya, dia kirimkan emoji ❤.

Ah Chipo, maafkan kakakmu ini yang kadang suka sok pintar dan kekeuh ya. Kalo bukan karena sayang, gk sampe segitunya kok.

Sekarang Chipo sudah bersama Bapak kita di surga. Sudah dirumah ya, Chip. Tempat kita yang sesungguhnya.

Sungguh hari ini hari yang berat bagi kami. Saya dengar kabar duka ini saat sedang jauh di puncak gunung di luar negeri. Seperti akan jatuh menggelundung ke dasar gunung rasanya, Chip. Langit disini ikut menangis bersamaku, Chip. Kalo Chipo lihat pasti ketawa deh dan bilang, “Ngopo tho, mbak.” Tapi lalu kau pasti akan memelukku, karena aku tau begitu halus hatimu.

Itulah yang akan selalu kukenang, saudara dalam Kristus saya yang baik hati dan tidak ada duanya.


Note: Jika Rekan-rekan ada kenangan, silakan tuliskan (secara singkat) di kolom komentar. Terima kasih.

Retreat Navigator Sumba

Kegiatan retreat komunitas Sumba diadakan selama 3 hari terhitung sejak tanggal 3-5 November 2023. Dari diskusi tim kepemimpinan regional dan nasional menyatakan bahwa sangat penting untuk mengembangkan komunitas lokal di pulau Sumba. Memastikan kokohnya pekerja dan pemimpin di area tersebut, serta mendorong munculnya regenerasi pekerja Kristus yang setia. Secara jumlah ada cukup banyak alumni dari Sumba yang dulu pernah dilayani oleh pelayanan kampus di Surabaya, Malang dan pulau Bali. Namun para alumni tersebut belum berjejaring dengan baik dan melayani bersama. Untuk itulah diadakan retreat komunitas Sumba agar dapat megumpulkan anggota-anggota komunitas, memperlengkapi mereka dan mendorong mereka untuk menolong orang lain mengenal Kristus.

Tema retreat kali ini adalah “Lihat, Tuhan hendak membuat sesuatu yang baru!”. Ayat tema diambil dari Yesaya pasal 43 : 19 yang berbunyi : “Lihat, Aku hendak membuat sesuatu yang baru, yang sekarang sudah tumbuh, belumkah kamu mengetahuinya? Ya, Aku hendak membuat jalan di padang gurun dan Sungai-sungai di padang belantara.” Kegiatan retreat ini dihadiri kurang lebih 40 orang yang terdiri dari keluarga, alumni muda dan mahasiswa.

Retreat yang diadakan di Hotel Casa Kandara Waingapu ini pada sesi pertamanya dibuka oleh Bapak Rudi MK, beliau berbagi mengenai bagaimana melihat hal baru yang Tuhan sedang kerjakan. Pada hari kedua peserta retreat juga melakukan rekreasi dan makan malam bersama di pantai. “Dengan menginjakkan kaki di Sumba, kami dapat bertemu langsung dengan teman-teman komunitas Sumba, berinteraksi dengan hangat, mendengarkan beban dan pergumulan, berdiskusi dan saling mendoakan. Mulai dari diskusi di meja makan, sampai menikmati keindahan alam dan berkaraoke bersama di Pantai Walakiri”, jelas salah seorang dari panitia retreat.

Pada salah satu sesi tim TDN dan tim Subreg bersama-sama peserta juga mendoakan dan mengutus keluarga Adi Pandrangga dan keluarga Agung Umbu sebagai tim pemimpin lokal di Sumba. Jika teman-teman pembaca mengingat mari kita juga turut mendoakan supaya Tuhan senantiasa menyertai kedua keluarga ini dalam melakukan pelayanannya.

Berikut beberapa kesan dari peserta retreat :

  • Puji Tuhan, saya pribadi merasakan suasana Kerajaan Allah dalam retreat Nav Sumba ini. Kesan yang paling indah ialah bisa berjumpa dengan alumi Nav yang sungguh-sungguh dipakai Tuhan dalam pelayanannya. Pada materi firman Tuhan yang dibagikan kepada kami, saya pribadi merasa sangat diberkati. Melalui retreat ini saya makin paham visi Nav. Retreat ini memotivasi saya untuk lebih sungguh melakukan pelayanan pemuridan, menikmati hubungan pribadi dengan Tuhan dan mengasihi sesama manusia. (Ryan)
  • Mengucap syukur karena campur tangan Tuhan nyata, Tuhan maha mendengar setiap doa-doa kita dalam persiapan retreat dengan segala keterbatasan yang kita miliki, Tuhan memperlengkapi semuanya dengan begitu indah sehingga retreat ini bisa berjalan dengan baik dan lancar. Saya percaya semua kita diberkati dengan adanya kegiatan ini, baik melalui sharing ataupun pengalaman hidup para pembicara dan juga kebersamaan yang hangat dan semakin erat walau bertemu dalam waktu yang singkat, terpujilah Tuhan. (Norlin)
  • Sebagai alumni muda yang baru 2 tahun kembali ke Sumba. Saya menyebut Sumba sebagai tanah perjanjian, karena untuk kembali ke Sumba saya memmiliki kisah yang luar biasa bersama Tuhan. Melalui janji dalam firman-Nya saya bisa berada di Sumba. Saya pikir setelah lulus kuliah akan lebih enak tinggal di Bali, tapi Tuhan membawa saya kembali ke Sumba dan saya rasa ini bukan kebetulan. Tuhan ingin melihat pulau Sumba menjadi pulau kesayangan-Nya. Teringat dengan Ulangan 11:10-12 – “Sebab negeri, ke mana engkau masuk untuk mendudukinya, bukanlah negeri seperti tanah Mesir, dari mana kamu keluar, yang setelah ditabur dengan benih harus kauairi dengan jerih payah, seakan-akan kebun sayur. Tetapi negeri, ke mana kamu pergi untuk mendudukinya, ialah negeri yang bergunung-gunung dan berlembah-lembah, yang mendapat air sebanyak hujan yang turun dari langit; suatu negeri yang dipelihara oleh Tuhan, Allahmu: mata Tuhan, Allahmu, tetap mengawasinya dari awal sampai akhir tahun.” (Luci)
  • Berkat yang saya nikmati melalui retreat ini adalah diingatkan bahwa keselamatan yang sudah saya terima dari Tuhan bukan disimpan untuk diri sendiri tapi untuk dialirkan menjadi berkat bagi sesama. Tuhan menginginkan supaya kita menjadi manusia Eden (serupa dengan Kristus), kemudian untuk menuju tanah Kanaan kita harus berani meninggalkan kenyamanan/ kesenangan hidup. (Agung Umbu)

PERJALANAN MOBILE ALONGSIDER SUB REG 5.3 #Part 3

Wasior & Manokwari, 18 – 23 Juli 2022

Aku berdoa, semoga dengan kehendak ALLAH aku akhirnya beroleh kesempatan untuk mengunjungi kamu. Sebab aku ingin melihat kamu untuk memberikan karunia rohani kepadamu guna menguatkan kamu, yaitu, supaya aku ada di antara kamu dan turut terhibur oleh iman kita bersama, baik oleh imanmu maupun oleh imanku. “

Roma 1:10–12

Janji Tuhan yang mendasari perjalanan pelayanan kami (Justi-Supervisor, Jermy-Pimsubreg dan Tim Kluster) di wilayah Sub Regional 5.3, tepatnya kluster 5.3.2 sebagai respon dari Janji Tuhan di Kejadian 13:14–17

Setelah Lot berpisah dari pada Abram, berfirmanlah TUHAN kepada Abram:

 “Pandanglah sekelilingmu dan lihatlah dari tempat engkau berdiri itu ke timur dan barat, utara dan selatan, sebab seluruh negeri yang kaulihat itu akan Kuberikan kepadamu dan kepada keturunanmu untuk selama-lamanya. Dan Aku akan menjadikan keturunanmu seperti debu tanah banyaknya, sehingga, jika seandainya ada yang dapat menghitung debu tanah, keturunanmupun akan dapat dihitung juga.  Bersiaplah, jalanilah negeriitu menurut panjang dan lebarnya, sebab kepadamulah akan Kuberikan negeri itu.”

Tujuan dari perjalanan ini adalah:

  1. Membangun hati para alumni di kota-kota sunyi untuk berkontribusi bagi pergerakan IKKA di suku-suku yang terdalam
  2. Mendorong kesehatian diantara para alumni agar terbentuk komunitas yang saling mendukung dan melengkapi untuk bergerak ke kanan dan ke kiri dalam lingkup wilayah mereka
  3. Menyiapkan hati para alumni untuk hidup memuridkan di antara yang terhilang di kota-kota sunyi.
  4. Melakukan survei dan merintis kampus Universitas Negeri Papua

Wasior

18 Juli, Bung Jermy bersama Bung Justi melakukan perjalanan ketiga untuk mengunjungi teman-teman di Manokwari dan Wasior. Setelah tiba di Manokwari kami bertemu dengan Usi Ende Ifamut, salah satu Alumni Navina di Ambon yang telah berdomisili di Manokwari sejak tahun 1995.

Gambar 1. Bung Jermy, bung Justi dan usi Ende

Setelah berdiskusi terkait transportasi ke Wasior akhirnya disepakati pada hari itu juga kami ke Wasior dengan menggunakan KM Elizabeth Queen yang direncanakan berangkat pada Pukul 17:00 WIT.

Gambar 2. Persiapan berangkat ke Wasior dengan KM. Elizabeth Queen

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 12 Jam, kami tiba di Wasior ibukota kebupaten Teluk Wondama, Papua Barat pada tanggal 19 Juli. Kedatangan kami disambut oleh Keluarga Sumaryono yang merupakan Alumni Navina Ambon yang telah menetap di Wasior kurang lebih 17 tahun.

Gambar 3. Bung Justi, Keluarga Sumaryono, Bung Jermy

Sharing dengan mereka tentang tanggung jawab pekerjaan, hati untuk jiwa-jiwa serta komitmen untuk terus bekerjasama dalam menuntaskan AAK di Wasior.

20 Juli, kami bersama keluarga Mas Yono melakukan perjalanan mengitari kota Wasior untuk bersama berdoa sambil mengingat janji Tuhan dari Kejadian 13 dan Yosua 1:3.

Manokwari

21 Juli pukul 13.00 WIT, kami melanjutkan perjalanan ke Manokwari dengan menggunakan kapal cepat dan tiba Pukul 19:00 WIT setelah itu kami menuju ke hotel untuk bermalam sekaligus beristirahat, kondisi kesehatan Bung Justi yang menurun (sakit) sehingga agenda kunjungan di esok hari hanya dilakukan oleh Bung Jermy.

22 Juli, Bung Jermy mengunjungi salah satu mahasiswi yaitu Nona Numberi bersama saudara sepupunya Shela. Mereka berdua baru saja diterima di Universitas Papua fakultas MIPA jurusan Biologi. Mahasiswi ini merupakan adik dari Julius Numberi salah satu mahasiswa Papua yang sementara  bertumbuh di Solo dilayani oleh Mas Joko Setyo dan Mas Iwun. Dan adik dari Bastian Numberi mahasiswa USTJ Jayapura yang sementara dilayani oleh Bung Jermy di Jayapura.

Meyakini Janji Tuhan dan mengalami janjiNya merupakan hal yang akan menambah pengenalan akan pribadi Allah secara pribadi. Hal ini akan menggairahkan semangat untuk terus berjalan bersama Dia sambil memegang janji-janjiNya.

Sharing Bung Jermy kepada keluarga Nona dan Shela.

Selanjutnya Bung Jermy melakukan perjalanan ke kampus Universitas Papua, untuk mendoakan kampus tersebut agar banyak jiwa diselamatkan. Bung Jermy juga membangun komunikasi dengan seorang mahasiswa S2 Sospol asal Nabire namanya Noach Pekey.

23 Juli, kondisi kesehatan Bung Justi sudah berangsur membaik, sehinga kami melakukan kunjungan ke kampus STT Erikson Treat dan bertemu dengan beberapa alumni yang baru selesai wisuda. Berbagi tentang tujuan hidup dan panggilan untuk memuridkan. Banyak gereja sudah tidak lagi memuridkan seperti yang ditunjukkan Tuhan di dalam Kabar Baik. Pemuridan bukan sekedar belajar firman Tuhan tetapi membagi hidup, menyediakan waktu bagi 1 atau 2 orang jemaat yang selanjutnya bisa mempengaruhi kehidupan keluarga besar mereka bahkan lingkungan mereka, itulah yang menjadi passion bagi setiap hamba Tuhan.

Selanjutnya Kami bersama Usi Ende berkunjung ke salah seorang alumni yang pernah dilayani di Jayapura, Usi Anne Ferdinandus. Alumni ini sangat semangat membagi bagaimana melakukan Amanat Agung Kristus dan memuridkan para remaja putri di gereja. “Saya menyadari bahwa saya butuh pekerja Kristus untuk bekerja sama melakukan AAK bagi para remaja di gereja kami,” demikian yang disampaikan Anne  kepada kami. “Kekurangan pekerja memang itu sudah dialami saat Tuhan Yesus melayani  orang banyak,” sela Bung Justi. “Yang penting Anne berdoa dari para remaja putri, atau wanita muda siapa yang Anne bisa ajak kerjasama untuk melakukan tugas ini. Tuhan memilih 12 orang yang bisa bekerjasama dengan-Nya untuk membawa kabar baik. Kami akan mendoakan pergumulan Anne baik dalam pelayanan maupun dalam keluarga,” kata bung Jermy.

Gambar 8. Bung Jermy, bung Justi, usi Ende dan Anne Ferdinandus

Selanjutnya kami mengitari bukit untuk mendoakan kota Manokwari secara bersama-sama. Tuhan berikanlah pada kami jiwa-jiwa yang haus dan berbeban berat untuk dilayani dan ditolong oleh rekan-rekan di Manokwari

Gambar 9. Bung Jermy, bung Justi dan kota Manokwari

Bung Jermy bersama rekan-rekan kembali ke hotel, dan kondisi kesehatan bung Justi mulai kembali menurun.

Pada malam hari kami bertemu dengan salah satu alumni, tenaga dosen di Universitas Papua yaitu Jory. Berbagi tentang bagaimana membangun hati untuk generasi muda papua melalui kampus Universitas Negeri Papua, Manokwari. Kampus UNIPA merupakan kampus yang strategis dari kampus-kampus yang ada di Papua. Untuk itu sangat diharpkan agar kampur ini muncul pekerja-pekerja orang Papua asli yang mampu berkontribusi bagi pencapaian Amanat Agung Kristus diantara suku-suku yang terhilang di Papua.

Gambar 10. Bung Jermy, bung Justi dan Usi Yori Toru Toja

Keesokan harinya, kami kembali ke kota masing-masing untuk melanjutkan pekerjaan Tuhan yang sementara dikerjakan.

Pelajaran Kunjungan :

  1. Perlu dilakukan kunjungan yang terjadwal dan berkelanjutan oleh pimsubreg , pimkluster yang didampingi dengan pendamping sehingga bisa mengidentifikasi kondisi para alumni dan tindak lanjutnya.
  2. Perlu kapasitas khusus untuk mendengar dari setiap alumni sambil berdoa agar Tuhan menunjukkan apa kebutuhan mereka sehingga dapat dilakukan langkah² pemberian solusi sebisa mungkin.
  3. Membesarkan hati dan membangun kesehatian diantara komunitas para alumni di daerah rintisan agar terjaga semangat dan komitmen bersama dalam pencapaian Injil di wilayah tersebut.
  4. Membangun komunikasi yang intensif dengan para alumni di daerah yang dikunjungi agar mendapat informasi terbaru untuk didoakan secara bersama-sama.
  5. Memastikan setiap daerah rintisan yang ada alumni perlu dikumpulkan agar terbangun komunitas saling dan bila tidak ada alumni harus ada orang asli kota/daerah tersebut yang mendengar tentang IKKA.
  6. Update daerah hasil kunjungan perlu diinformasikan secara berkala bagi para alumni agar terbangun kesamaan presepsi untuk mendukung pergerakan IKKA di antara yang terhilang.
  7. Berdoa dan tetap percaya janji- janji Tuhan karena dalam perjalanan pengembalaan tidak selamanya sesuai dengan rencana dan jadwal kita.

Tantangan

Wasior

  1. Pola masyarakat asli yang masa bodoh untuk berjuang hidup menjadi tantangan bagi kel Mas Yono untuk membagi hidup dengan masyarakat setempat.
  2. Kerinduan untuk mendengar tentang kabar baik oleh masyarakat setempat kurang diminati karena lebih terpusat pada kebutuhan hidup sehari-hari.

Manokwari

  1. Kebutuhan untuk mendampingi para alumni yang telah selesai terutama para alumni yang telah berprofesi sebagai hamba Tuhan agar tetap fokus pada panggilannya sehingga butuh penjadwalan untuk tujuan dimaksud
  2. Kekurangan pekerja di pelayanan gereja menjadi tantangn untuk bisa memenuhi kebutuhan untuk melayani orang yang terhilang terutama ppara wanita.
  3. Keberanian untuk memulai pelayanan di kampus UNIPA ditengah tanggung jawab sebagai dosen dan pekerja Kristus.

Pokok Doa

Mohon dukungan doa bp/ibu sekalian bagi :

  1. Keluarga Sumaryono (Mas Yono) agar diberi kekuatan dan kapasitas dalam bekerja serta dipertemukan dengan orang-orang yang rindu dan haus untuk ditolong dalam firman Tuhan
  2. Saudari Ende Ifamut (usi Ende) agar diberi hikmat , kesehatan dan kapasitas sebagai dosen STT Eriksson Treat serta kemampuan untuk berinteraksi dan melayani para mahasiswa demi pencapaian AAK di Papua Barat
  3. Keluarga Anne Ferdinandus agar diberi kekuatan dan hikmat dalam melayani orang-orang muda wanita di gereja sehingga akan menghasilkan generasi muda yang takut akan Tuhan dan berdampak bagi perubahan sosial dimana mereka berada.
  4. Keluarga Yory Toru Teja agar diberi kekuatan dan kemampuan untuk melaksanakan tanggung jawab sebagai dosen, juga kerinduan dan keberanian untuk berkontribusi bagi AAK melalui profesi dosen di kampus Universitas Negeri Papua.

MENGOKOHKAN PATOK-PATOK DI PULAU-PULAU YANG SUNYI

Perjalanan Pelayanan Perintisan di Maluku Barat Daya

Pandanglah sekelilingmu dan lihatlah dari tempat engkau berdiri itu ke timur dan barat, utara dan selatan, sebab seluruh negeri yang kaulihat itu akan Kuberikan kepadamu dan kepada keturunanmu untuk selama-lamanya.Dan Aku akan menjadikan keturunanmu seperti debu tanah banyaknya, sehingga, jika seandainya ada yang dapat menghitung debu tanah, keturunanmupun akan dapat dihitungjuga. Bersiaplah, jalanilah negeri itu menurut panjang dan lebarnya, sebab kepadamulah akan Kuberikan negeri itu.

Kejadian 13: 4-17

27 Oktober, Perjalanan dimulai

Bung Justi Bersama Bung Nus melakukan perjalanan laut menumpangi kapal Sabuk Nusantara 103 ke Pulau Babar berkat bantuan Bung Vano, ASN Dinas Perhubungan Saumlaki. Sangat bersyukur untuk kedaulatan Tuhan dan pertolongan-Nya yang mempertemukan kami dengan Bung Vano. Bung Vano menyebut Bung Justi sebagai konsultan, konsultan Kerajaan Allah, tempat kami berkonsultasi tentang hal Kerajaan Allah.

Dalam pemberitaan IKKA perlu melibatkan banyak orang, pelayanan akan lebih baik dan bergerak karena kontribusi banyak orang dan bukan satu orang saja.

28 Oktober, tiba di MBD

Setelah berlayar selama hampir sehari akhirnya kami memasuki wilayah MBD tampak pulau-pulau yang masih jauh dari pandangan mata.

Dengan mengimani Kejadian 13 ; 14-17Pandang dari tempat kau berdiri….. bersiap dan jalanilah‘, Yosua 1 : 3,5…setiap tempat yang di injak kakimu ku berikan kepadamu‘, dan Yesaya 54 : 2-3….pancangkan kokoh-kokoh patok-patok‘.

Kami memandang semua pulau itu dan berdoa agar Tuhan menggenapi janji-janji-Nya dan memberikan generasi-generasi pekerja rohani untuk menuai pulau-pulau itu.

Pulau Dawelor dan Pulau Dawera

Pintu masuk MBD melalui laut dari Saumlaki, dimana terlihat dua pulau yang mirip tapi berbeda.  Sebelah kiri adalah Pulau Dawelor (ada 3 kampung di dalamnya)  dan sebelah kanan adalah Pulau Dawera (ada tiga kamuong juga disitu).  Kedua pulau ini nampak seperi gunung batu yang gersang dan tandus tetapi ada jiwa-jiwa di dalamnya.

Selama di perjalanan kami mencoba membangun komunikasi dengan beberapa orang yaitu Bapak abner dari kampong Wiratan, pulau Dawelor,  yafet dari kampong Letmasa Pulau Dewara dan Tomi (alumni siswa dari bung Nus asal kampong Watawe) untuk menanyakan tentang kedua pulau tersebut.

Diperlukan inisiatif dan keberanian serta kepekaan akan tuntunan Tuhan untuk membangun hubungan agar mendapat informasi tentang suatu tempat yang akan di rintis.

Usahakan dan pastikan bahwa dalam penjangkauan satu orang atau satu tempat ada kontribusi dan investasi anda.

Pukul 09.00 WIT kapal tiba di Pelabuhan pertama, Desa Watewei Pulau Dawelor dan transit selama 1 jam kemudian Pukul 10.00 kapal menuju Desa Kroing di Pulau Babar dan tiba pukul 12.00 WIT transit selama 2 jam. Kami di jemput Bung Bobby untuk makan siang di rumahnya (Desa Letwurung) berdampingan dengan Desa Kroing

Sambil menikmati jamuan makan siang, kami mendiskusikan ulang rencana perjalanan ini. Semula kami akan singgah di Desa Tepa, namun  setelah mendapat info bahwa salah satu alumni di desa Marsela, Pulau Marsela tidak dapat bergabung di Tiakur, akhirnya kami (Justi, Nus dan Bobby) sepakat untuk berkunjung ke alumni tersebut karena sesuai rute kapal yang akan menuju Pulau Marsela.  Selesai makan siang, kami kembali ke kapal untuk melanjutkan perjalanan.

Perlu fleksibel dan terbuka serta peka untuk pimpinan Tuhan dalam setiap perjalanan

Setelah menempuh perjalanan laut selama 9 jam dari desa Kroing, Pukul 21.00 WIT kami tiba di pelabuhan Pulau Marsela. Kami melanjutkan perjalanan darat menuju Desa Marsela sekitar satu jam dengan menumpang mobil Pick up (mobil yang mengangkut Sembako dan barang lainnya milik masyarakat dari pelabuhan).

Di Desa Marsela tidak ada transportasi umum (mobil / motor-ojek) karena kondisi jalan raya yang tidak baik dan terjal serta berbatuan. Listrik (PLN) juga tidak ada di Pulau ini, kegelapan disepanjang perjalanan kami dari Pelabuhan.  Waktu beroperasi Listrik desa Pukul 18.00 – 22.00 WIT.

Rencana awal (sesuai dengan info) kami akan tinggal di desa ini s.d tanggal 30/10 sambil menunggu Jadwal Kapal tujuan Pulau Babar.  Namun setibanya di pelabuhan Pulau Marsela, informasi yang kami terima bahwa kapal tersebut ternyata akan tiba besok tanggal 29 Oktober, dengan demikian, besok pagi kami harus berangkat, karena jika tidak, kami akan tertahan disitu kurang lebih 2 minggu menunggu Jadwal kapal lainnya.  Jika perjalanan harus dengan jasa transportasi Speed boad, yang hanya ditumpangi oleh kami, akan butuh biaya yang sangat besar (sekitar 2- 3 juta). Ini adalah dinamika perjalanan di MBD dimana jadwal kapal kadang berubah secara tiba-tiba.

Akhirnya, setelah tiba di Pulau Masela  malam itu, kami sharing dengan keluarga alumni sampai pukul 03.00 WIT setelah berdoa Bersama, kami beristirahat sebentar.  Pukul 5.30 WIT kami bangun dan bersiap-siap untuk kembali menuju pelabuhan (menumpangi mobil pick up yang mengantarkan kami tadi dari Pelabuhan).

terima kasih Bu Uti dan Bu Nus atas kunjungannya, ini merupakan anugrah Tuhan  bagi keluarga kami,  terima kasih karena sudah berbagi banyak hal untuk mengingatkan dan menguatkan kami supaya tetap ada di jalan Tuhan.  Tuhan memberkati daam perjalanan selanjutnya.

usi Novi

Pentingnya memiliki persepsi tentang berharganya satu orang dimata Allah dalam penjangkauan satu tempat

Sepanjang diskusi dan sharing dengan keluarga Novi dan Doni, kami teringat orang Geraza yang kerasukan dan perempuan Samaria yang berjumpa Yesus, bagaimana dampak dari pertemuan mereka itu,  kami berdoa agar Tuhan pun memakai keluarga ini dan membuat mereka berdampak bagi orang, pulau dan kabupaten sekitar mereka.  Kami juga teringat Yesaya 43:4, karena satu orang yang berharga, Tuhan akan memberikan manusia dan bangsa-bangsa…kiranya itu di genapi atas keluarga ini

29 Oktober, Meninggalkan Pulau Marsela

Jadwal keberangkatan kapal dari Pulau Marsela Pukul 12.00 WIT, tetapi karena tidak ada alat transportasi selain mobil pick up tadi, kami memutuskan untuk berangkat lebih awal dari rumah keluarga alumni yang kami kunjungi, Pukul 07.00 WIT kami meninggalkan Desa Marsela menuju pelabuhan. Menikmati perjalanan laut di tengah-tengah penumpang dan bahan Sembako serta barang lainnya milik penumpang, kami lebih banyak berdiri (selama 3 jam) dalam perjalanan menuju Tepa.

Pukul 16.00 WIT, kami tiba di Desa Tepa, Pulau Babar Barat.Bung Bobby Bersama seorang teman sudah menunggu untuk kami berempat melanjutkan perjalanan dengan kendaraan motor yang mereka siapkan. Melakukan perjalanan menuju Desa Letwurung di Babar Timur untuk bertemu dengan Keluarga Bobby dan mengunjung beberapa alumni disana.

Di Tepa tidak ada transportasi umum. Jika menggunakan Jasa Ojek (Carter), biaya untuk sekali jalan dari Tepa-Letwurung bisa mencapai Rp 350.000,. Waktu tempuh dari Tepa ke Letwarung ialah selama 2 jam dengan kondisi jalan raya yang tidak baik serta masih dalam proses pergusuran, ini alasan mahalnya jasa sewa transportasi seperti diceritakan di atas. Pukul 18.00 WIT Kami tiba di desa Letwurung di rumah Bobby dan Lea, dan kami beristisahat.

30 Oktober, Mengunjungi alumni

Menempuh jalur darat dengan mengendarai motor, kami (Bung Justi, Nus dan Bobby) mengunjungi para alumni di Desa Manuweri.

Setelah sharing dan berdiskusi, kami menyampaikan rencana perjalanan selanjutnya dan kegiatan di Tiakur, Rany, Oya dan Stevy, merencanakan untuk ikut Bersama dengan kami ke Tiakur untuk bergabung dengan alumni lainnya dari pulau-pulau lain di MBD

31 Oktober, Bersekutu bersama Bobby dan Lea serta anak-anak mereka

1 November,  Meningglkan Letwurung menuju Tepa dan bermalam

Pukul 13.00 WIT dengan menyewa mobil Pick up (saya menyebut mobil ini Avansa di MBD), kami meninggalkan Usi Lea dan anak-anak di Letwurung menuju Tepa.  Di Tepa listrik menyala dari Pukul 18.00 – 06.00 WIT dan pada waktu listrik padam, komunikasi serta jaringan internet tidak dapat terkoneksi.

Di Tepa kami mengunjungi salah seorang alumni, Usi Nita Picauly (ada beberapa alumni lainnya, hanya kedatangan kami saat mereka sedang tidak di tempat tugas jadi kami tidak bisa bertemu). Mendengar apa yang dibagikan, dinamika yang dihadapi dan bagaimana perjuangannya untuk tetap melakukan panggilan. Kami membesarkan hati dan memberi semangat serta mendorongnya untuk tetap percaya dan berjalan bersama Tuhan yang sudah menempatkannya disitu dan berjanji menyertainya sampai kesudahan zaman. Mengakhir pertemuan ini dengan berdoa bersama.

mengunjungi Usi Nita Picauly di Tepa

2 November, Perjalanan menuju Pulau Moa

Melanjutkan perjalanan melalui jalur laut dengan KM Sabuk Nusantara 104 menuju Pulau Moa.  Kurang lebih 28 jam perjalanan dengan singgah  di beberapa pulau. Sambil berdiri memandang pulau-pulau yang kami lewati dengan mendoakan dan mengimani janji Tuhan dari Kej 13 supaya Tuhan memunculkan generasi pekerja rohani dari sana.

Esok hari (Pukul 15.30), kami tiba di Pelabuhan Moa dan melanjutkan ke Desa Tiakur, Ibu kota Kabupaten Maluku Barat Daya

Pelabuhan Moa

4 November, Menuju Pulau Leti

Jalan pagi bersama Bung Bobby, sambil sharing tentang Mengimani munculnya generasi pekerja rohani sesuai janji Allah, setelah tiba di Kampus, kami berdoa Bersama. Kemudian Kembali dan mempersiapkan diri untuk melanjutkan perjalanan melalui jalur laut menuju Pulau Leti.

Para alumni yang dikunjungi di pulau Leti.

Bersyukur utk hikmat Tuhan bisa mendengar dan membesarkan hati mereka sambil Bung Nus (Pimsubreg 5.2) berbagi perkembangan dan apa yang sedang Allah kerjakan dalam Subreg 5.2 juga perencanaan ke depan.

makan siang bersama

Pukul 16.00 WIT kami kembali ke Moa dengan speed boad dan turun di pantai Tiakur. Tempat dimana dulu Yoseph kam  pertama kali tiba di Pulau Moa.

5 – 6 November, Mini  Retreat di Weet

5/11- 2022. Jam 12.00 kami menuju Desa Weet, untuk bersekutu selama 2 hari (5-6/11). Di Desa ini, Bung Jose Kerubun tinggal dan bekerja sebagai tenaga Guru (SMK).

Teman² alumni yang dapat hadir adalah yang mewakili : Pulau Moa ; Pulau Leti; Pulau Babar; Pulau Lakor dan Pulau Sermatang.

Sangat memuji Tuhan karena menjawab doa kita semua, sehingga menarik hati para alumni ini untuk sedia dan rela berkorban menggunakan kapal laut dan speed boad menuju Tiakur.

Topik yang dibagikan antara lain: Kasih yang tidak pernah berubah, Panggilan , Pentingnya Firman Tuhan dan Mari kita kerja

7 November, perjalanan ke Pulau Lakor

Dengan menumpang Mobil Pick Up, kami melakukan perjalanan menuju desa Moain..di bagian timur pulau Moa kemudian melanjutkan dengan motor laut yang biasa disebut Jolor oleh nasyarakat disana, menuju Pulau Lakor tempat tugas Bung Yansen Belseran.

Setibanya di pulau Lakor,  kami kemudian berpencar untuk mengunjungi jaringan alamiah dan kontak2 di Pulau Lakor.  Sementara saya di beri kesempatan Oleh Bung Yansen Balseran (Guru di Lakor yg pernah ke Bangladesh) mengunjungi para siswa di sekolahnya

Mendapat kesempatan berbagi dan memotivasi para siswa, bagaimana agar impian dan cita-cita mereka berhasil dengan bergantung kepada Tuhan sejak masa remaja. setelah itu mendoakan dan foto Bersama dengan mereka. (Gambar bawah ini)

Pukul 14.30 WIT, kami meninggalkan Pulau Lakor untuk kembali ke Tiakur, Pukul 17.00 WIT kami melanjutkan sharing dengan para guru dengan topik “ Guru, Profesi atau panggilan?”

Sebagai informasi, Hampir Sebagian besar alumni yang tersebar di MBD berprofesi sebagai tenaga Guru. 95% yang tergabung dalam persekutuan adalah Guru

sharing dengan para Guru

Setelah selesai persekutuan kami makan malam bersama dengan para pemimpin lokal dari setiap pulau sambil mendiskusikan langkah2 apa yang harus di lakukan ke depan (gambar di bawah).  Dan teman² MBD sepakat utk mengadakan Retreat di tahun 2023.

TANTANGAN

  1. Kondisi geografis yang terdiri dari pulau-pulau menjadi suatu kendala alumni untuk berkumpul, karena  selain faktor cuaca, juga jadwal kapal yang berubah-ubah sehingga sulit mengatur waktu.
  2. Listrik PLN yang beroperasi di waktu tertentu (Pukul 18.00 – 06.00) dan setelah itu padam, ini sangat mempengaruhi komunikasi juga akses internet karena jaringan yang tidak tersedia.
  3. Tidak adanya transportasi umum, karena salah satu faktor : kondisi jalan yang rusak
  4. Masih maraknya kuasa okultisme dan hal-hal yang berbau mistik

POKOK DOA

  1. Doakan setiap alumni yang tersebar di berbagai Pulau agar mereka tetap memiliki persekutuan pribadi dengan Tuhan dan tetap hidup dalam panggilan serta mengerjakan panggilan itu
  2. Doakan rencana mereka untuk melakukan retreat MBD di tahun 2023 , untuk Panitia dalam merencanakan acara tersebut
  3. Mendoakan agar Tuhan menggerakan pemerintah untuk memperhatikan dan membangun jalan-jalan, juga tower untuk internet serta merealisasi Listrik PLN yang sebagian instalasinya sudah ada tetapi belum berfungsi
  4. Doakan juga supaya ada penambahan armada tol laut di tahun depan sehingga memperlancar transportasi antar pulau
  5. Doakan Bung Jose Kerubun dan Tim dalam mengkoordinir dan menggembalakan para alumni yang ada disana

Terima kasih untuk kasih, doa, dukungan dan pemberian bapak, ibu dan semua saudara bagi kami sehingga perjalanan ini telah berlangsung dengan baik. Kiranya Tuhan yang empunyai pekerjaan ini memberkati kita semua untuk terus bergairah dan bersemangat untuk memajukan IKA dan memuridkan di antara yang terhilang sebelum Dia dating kembali.

Salam,

Tim MBD.