Tuhan ALLAH telah memberikan kepadakulidah seorang murid, supaya dengan perkataan aku dapat memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu. Setiap pagi Ia mempertajam pendengaranku untuk mendengar seperti seorang murid.
Yesaya 50 : 4
Memanfaatkan waktu liburan setelah berakhirnya semester di bulan Juni, Forum Siswa Regional 5 yang dikoordinir oleh Bung Ocep dan Tim telah berkomitmen untuk melaksanakan Retreat SiswaRegional 5 secara virtual yang dilaksanakan pada tanggal 27-29 Juni yang lalu.
Retreat dengan Tema “Smart for Christ” dari Yesaya 50:4 dengan 5 topik:
Aku Berharga, Kamu juga
Chat dengan Tuhan
Tanggung Jawabku Belajar, kalau kamu?
Berani Tampil Beda
I have a dream
Yang dibawakan oleh: Bung Nus, Bung Jermy, Bung Roy, Bung Yoppy, dan Bung Justi mendapat respon yang luar biasa dari para siswa. Diikuti oleh sekitar 100 lebih peserta, mulai dari jenjang Sekolah Dasar (yang paling muda usia 7 tahun atau SD kelas 1) hingga yang akan masuk ke Perguruan Tinggi dari sub regional 5.1 (Tobelo), sub regional 5.2 (Masohi, Tual, Elat, Seira, Saumlaki, Dobo, Moa), sub regional 5.3 (Timika dan Jayapura) dan peserta regional 5 yang berada di luar kota (Solo dan Jogja).
Peserta Retreat Siswa Regional 5
Rangkaian acara, penyampaian materi Firman Tuhan diselingi dengan sharing dalam kelompok dan games semakin membuat peserta seperti enggan untuk berpisah, bahkan 3 hari bagi mereka tidaklah cukup, ada yang masih ingin menambah waktu pelaksanaan retreat ini menjadi 1 minggu, bahkan kerinduan dan doa mereka, supaya acara ini bisa dilaksanakan secara langsung, offline, bertemu muka dengan muka.
Kami memuji Tuhan untuk pekerjaan-Nya yang besar, pada saat penyampaian materi terakhir, I have a Dream, salah satu pelajaran dari tokoh Yusuf , sang pemimpi, yang takut akan Tuhan sehingga Tuhan menjadikannya berhasil, dan beberapa point penting lainnya, para peserta ditantang untuk menyerahkan hidupnya dipakai Tuhan, hampir sebagian besar anak-anak mengangkat tangan mereka, tanda bahwa mereka mau membuka hati kepada Sang Juruselamat, menjadi satu-satunya Tuhan dalam hidup mereka.
Kami berdoa, kiranya melalui orang-orang muda ini, ada sukacita yang besar di Sorga, karena yang terhilang akan diperdamaikan dengan Sang Pencipta dan menduduki kota-kota yang sunyi.
Kesan Peserta dari Timika
Beberapa kesan dari para peserta:
Kami bersyukur bisa mengikuti kegiatan ini. Kami belajar bahwa, jika kami memiliki mimpi, tidaklah merasa tak mampu, karena mimpi itu menggerakan kami mencapai cita-cita, asalkan kami selalu mengandalkan Tuhan .
Tim Tobelo
Kami sangat senang, sangat bersyukur boleh mengikuti kegiatan ini, mendapat pelajaran baru yang tidak pernah kami dapatkan sebelumnya, kami senang bisa bertemu dengan teman-teman dari tempat yang berbeda, sekalipun secara online, apa yang kami dapat sangat mempengaruhi hidup kami, kami belajar untuk lebih lagi dekat dengan Tuhan, takut akan Tuhan, menjadi berkat untuk banyak orang, tidak boleh ada iri hati melihat kesuksesan orang lain.
Tim Maluku (Masohi,Tual, Elat, Seira, Saumlaki, Dobo, Moa)
Kami bersyukur karena bisa mengikuti kegiatan ini, merasakan perubahan dalam diri kami, mulai berdoa tiap malam, memang ini suatu keharusan bagi kami, dan juga kami menjadi semakin dikuatkan dalam menghadapi segala sesuatu.
Perjalanan pengembalaan (8-16 Mei 2022) di kepulauan Tanimbar oleh Bung Justy, Bung Nus, dan Bung Stevi dengan meyakini akan janji Tuhan dalam Kejadian 13:14-17.
Setelah Lot berpisah dari pada Abram, berfirmanlah TUHAN kepada Abram: “Pandanglah sekelilingmu dan lihatlah dari tempat engkau berdiri itu ke timur dan barat, utara dan selatan, sebab seluruh negeri yang kaulihat itu akan Kuberikan kepadamu dan kepada keturunanmu untuk selama-lamanya. Dan Aku akan menjadikan keturunanmu seperti debu tanah banyaknya, sehingga, jika seandainya ada yang dapat menghitung debu tanah, keturunanmupun akan dapat dihitung juga. Bersiaplah, jalanilah negeri itu menurut panjang dan lebarnya, sebab kepadamulah akan Kuberikan negeri itu.”
Perjalananan pengembalaan ini dilakukan dengan tujuan:Perjalanan
Menguatkan hati dan memotivasi para pekerja dan alumni di Kepulauan Tanimbar agar tetap fokus pada panggilan dan mau berkontribusi dalam mendukung pergerakan kabar baik.
Membangun kesehatian diantara para pekerja dan alumni agar saling bersinergi dalam komunitas dan menyiapkan pemimpin yang berani untuk mengambil tanggung jawab dalam memimpin komunitas baru di kepulauan Tanimbar.
Membentuk dan mengembangkan komunitas-komunitas lokal di kepulauan Tanimbar.
L U M A S E B U Perjalanan dengan menempuh jarak 83 km ke Lumasebu (Kecamatan Kormomolin) di minggu siang untuk berkunjung ke Kel. Ratuanik (Aris & Ipin). Aris adalah kepala sekolah di SMP Lumasebu dan Ipin adalah salah satu guru di sekolah yang sama. Kedatangan kami memberi kesukaan bagi mereka. Sudah cukup lama mendoakan bagaimana membentuk komunitas di antara para guru. Mencoba melakukan beberapa pendekatan, namun ada saja kendala dan seperti tidak efektif untuk berjalan. Aris berbagi tentang akan diadakannya bible camp untuk siswa menjelang paskah Kristus tahun 2022, dengan harapan akan ada follow-up nya pada kedatangan kami di Kepulauan Tanimbar, bahwa para siswa akan langsung ditangani oleh guru untuk follow up. Setiap guru dengan 6 siswa untuk dibimbing. Agar tujuan ini bisa berjalan, setelah sharing dan diskusi bersama Bung Justi, kami memutuskan akan kembali lagi untuk persekutuan bersama Guru dan Siswa.
Gambar 1. Sharing dengan Keluarga Ratuanik
K A N D A R Perjalanan selanjutnya setelah dari Lumasebu adalah ke Desa Kandar (Kec. Selaru) untuk mengunjungi Kel. Halirat (Alo & Fin). Alo adalah Kepala desa Kandar sedangkan Fin, seorang tenaga guru SMK. Karena faktor cuaca dalam minggu itu sangat buruk (gelombang & angin kencang), setelah berkomunikasi dan meminta nasehat dari Kel. Alo Halirat, akhirnya kami sepakat untuk membatalkan perjalanan ke kandar, dan sebagai gantinya akan dilakukan pertemuan di Saumlaki dengan keluarga Halirat. Namun pada akhirnya Alo, sebagai kades tidak dapat melakukan perjalanan ke Saumlaki karena faktor di atas dan karena kesibukan dengan agenda-agenda pemerintahan yang tiba-tiba.
Gambar 2. Keluarga Halirat (Alo dan Fin)
S E I R A Berikutnya, perjalanan menuju Seira. Pelayanan di Seira dirintis dan dikembangkan oleh Kel. Jauply (Stevi & Mey) sejak mereka bertugas di Seira sebagai guru di SMK N Seira tahun 2005. Bung stevi kemudian dimutasikan ke saumlaki sebagai pengawas SMK sejak tahun 2018 sedangkan istrinya Mey masih bertugas di seira. Bung stevi selalu ke seira hampir setiap minggu untuk melayani teman-teman di seira. Oleh kemurahan Tuhan pelayanan di seira terus berkembang dengan baik hingga saat ini. Jadi pelayanan di seira merupakan buah-buah pelayanan secara rambatan dari Saumlaki.
Gambar 3. Keluarga Jauply (Stevi dan Mey)
Selasa, 10 mei jam 07.30 WIT kami berangkat ke Seira. Dari Saumlaki dengan transportasi darat, sekitar 1 jam kami tiba di desa Batuputi, dilanjutkan dengan transportasi laut sekitar 45 menit.
Gambar 4. Perjalanan menuju Seira
Setibanya di Seira, para guru dan siswa telah menantikan kedatangan kami, sungguh bersyukur untuk kesediaan mereka menunggu untuk beberapa saat lamanya dan mereka begitu bersemangat menerima kabar sukacita yang disampaikan oleh Bung Justi.
Gambar 5. Ibadah bersama Guru dan Siswa SMK N Seira
Selesai ibadah, beberapa guru berkesempatan untuk menanyakan respons para siswa secara pribadi, dan para siswa itu ingin ditolong bertumbuh di dalam Tuhan. Menyadari akan kebutuhan ini, kemudian direncanakan untuk dilakukan pertemuan dengan guru-guru yang pernah di tolong oleh Stevy dan Mey serta yang pernah bertumbuh di dalam pelayanan baik di Ambon maupun di kota lain. Jam 18.00 WIT, sharing bersama beberapa guru SMKN & SMAN Seira. Kami sangat terbeban dan terharu melihat beberapa dari mereka berbagi sambil menangis. Persekutuan sore itu sangat menolong dan menguatkan hati mereka. Mereka merasa terhibur dan dikuatkan kembali dengan bagian firman yang di bagikan. Hasil dari persekutuan dengan komunitas Guru itu adalah membentuk komunitas guru di Seira dan disepakati untuk pertemuan setiap bulan untuk sharing bersama yang dikoordinir oleh Uteng Utuwaly.
Gambar 6. Persekutuan dengan komunitas guru di seira
Saya sangat senang dan beryukur untuk persekutuan sore ini. Selama 2 tahun ini saya merasa sendiri, saya punya masalah di tempat kerja, saya sedang menolong siswa tetapi saya merasa tidak ada yang perhatikan saya…Terima kasih Bu Uti untuk kasih dan perhatiannya bagi kami.
Jems
Kunjungan selanjutnya ke Kel. Temin (Anes & Ein) di desa Themin. Anes Adalah kepala desa sedangkan Ein guru SMK. Kami juga sharing dan berdoa bersama perangkat desa yang sudah dikumpulkan terlebih dahulu oleh Anes sebagai kepala Desa. Beberapa dari perangkat desa ini adalah alumni dari sekolah tempat Bung Stevi dan Usi Mey mengajar. Termasuk juga Ein yang pernah tinggal bersama mereka selama studi di sekolah yang sama.
Setelah mendengar curatan hati mereka dan tantangan yang dihadapi, pembicaraan kemudian dilanjutkan dengan membesarkan hati dan memotivasi mereka untuk melihat ini sebagai suatu panggilan dan bukan sekedar tugas dan tanggung jawab, dan di tutup dengan sharing tentang pemerintahan yang berhasil adalah pemerintahan yang takut akan Tuhan. Dengan mengutip beberapa contoh dari raja-raja Israel di dalam firman Tuhan, kami membagikan dan mengarahkan mereka. Ujung dari pertemuan ini mereka di dorong untuk mulai bertemu sebagai tim untuk saling mendoakan dan belajar satu dengan yang lain dengan memperhatikan teladan tokoh di dalam Firman Tuhan supaya bisa memimpin desa Themin dengan benar dan menjadikan masyarakatnya menjadi contoh untuk desa di sekitar mereka secara khusus dan kepulauan tanimbar pada umumnya. Pertemuan di akhiri dengan mendoakan perangkat desa ini beserta semua harapan mereka.
Gambar 7. Kel. Anes Themin dan perangkat desa
Waktu menunjukan pukul 23.00 WIT sharing berlanjut dengan siswa-siswadari bung Jems. Selesai sharing dan berdoa dengan mereka, kami baru punya kesempatan untuk makan pada jam 24.00 WIT. Tanggal 11 mei, kami mengunjungi dan berdoa dengan Kel.Gaspar Utwaly (salah seorang dari perangkat desa Themin) dan ibu Seba (ibu dari Uteng) yang sudah sekitar 20 tahun buta dan lumpuh. Siangnya, kami melakukan perjalanan kembali ke Saumlaki.
Gambar 8. Kunjugan kel.Gaspar & ibu Seba
LUMASEBU Perjalanan kedua ke desa Lumasebu untuk bersekutu besama para guru SMP N Lumesebu dengan topik “Guru itu profesi atau panggilan” oleh Bung Justi. Selesai ibadah, dilanjutkan dengan sharing komunitas guru dipimpin oleh bung Aris Ratuanik. Setelah makan siang, dilanjutkan dengan ibadah bersama para siswa SMP N Lumasebu dengan Topik “Mencapai masa depan bersama Tuhan”.
Gambar 9. Ibadah bersama siswa SMP N Lumasebu
S A U M L A K I Kegiatan berlanjut dengan mengunjungi pasutri dan alumni : Kel.Basten Arbol, Kel.Joel Abarua, Kel.Yanto Louk, Yoan Melatuni, dan Fin Lerebulan. bersekutu bersama dengan Topik “Kebangkitan Kristus yang Memulihkan”.Ibadah diakhiri dengan ucapan terimakasih dan penyerahan cenderamata. Setelah persekutuan, di lanjutkan dengan sharing dan pertemuan secara pribadi bung Justi dengan keluarga-keluarga pada malam harinya. Sharing dengan Kel.Fano Papilaya, Kel.Stevi Jauply dan Kel.Nus Utwaly.
Gambar 10. Persekutuan bersama alumni Saumlaki
Keesokan harinya, Minggu 15 Mei 2022 sore, persekutuan bersama guru dan dosen, dengan Topik “Guru itu profesi atau panggilan”. Dalam diskusi bersama, guru-guru merasa perlu ada persekutuan guru secara rutin, akhirnya kami menyepakati untuk PA komunitas guru dan dosen setiap bulan dan dipimpin oleh Nus.
Terima kasih bu Uti untuk FT yang dibagikan bagi kami, sebagai guru saya merasa tertolong dengan materi ini, terkadang saya terlalu hati-hati dalam berinteraksi, saya merasa hanya mengerjakan profesi saya, tetapi saya mulai paham bahwa guru bukan sekedar profesi
Yoan
Gambar 11. Persekutuan bersama komunitas guru di Saumlaki
Mengakhiri perjalanan penggembalaan dengan berbagi antara Bung Justi dan tim, mengingatkan kami kembali tentang sehati sepikir dalam bekerja sama sebagai tim, menguatkan satu dengan yang lain dari janji Tuhan di dalam Kejadian 13 demi pencapaian yang terhilang untuk menduduki kota-kota yang sunyi.
Gambar 12. Pertemuan Tim Kluster 5.2.5 di bandara Saumlaki
TANTANGAN DAN PERGUMULAN
Bung Aris akan memulai PA dengan siswa dan komunitas guru di lumasebu, sebagai kepala sekolah banyak tugas yang harus dikerjakan dan juga sering berurusan ke kabupaten, sehingga perlu komitmen
Uteng Utuwaly yang mengkoordinir komunitas guru di seira, sedang fokus untuk merawat ibunya yang sakit (buta dan lumpuh). Beberapa dari mereka juga masih honorer dengan penghasilan yang sangat rendah.
Stevi dan Nus, setiap bulan akan ke seira dan Lumasebu untuk PA dengan komunitas guru disana. Sebagai ASN perlu bijaksana mengelola waktu sehingga tidak mengganggu tugas pokok.
Ada beberapa keluarga dan alumni yang belum mempunyai pekerjaan tetap, sehingga belum terlalu serius/fokus dalam pelayanan.
UCAPAN SYUKUR DAN DOA
Mengucap syukur untuk kemurahan Tuhan dan pemeliharaan-Nya sehingga perjalanan ini bisa berlangsung dengan baik. Doakan setiap benih Firman Tuhan yang sudah ditaburkan agar Tuhan menumbuhkannya, hingga berbuah dan berlipatganda.
Bersyukur untuk kemurahan Tuhan melalui komitmen dan kerjasama para alumni di kluster 5.2.5, sehingga dana yang dibutuhkan sebesar Rp 20.600.000,- (dua puluh juta enam ratus ribu rupiah) dapat terpenuhi.
Bersyukur juga untuk setiap peran dan kontribusi dari setiap orang selama perjalanan pengembalaan ini.
Doakan Nus dan Stevy dalam melakukan follow up paska kunjungan ini agar diberi hikmat dan bergantung kepada pimpinan Roh Kudus dalam mendengar dan menangkap semua kebutuhan dari setiap komunitas
Doakan juga Aris & Ipin dalam menggkoordinir komunitas Guru di Lumasebu, dan Uteng dalam mengkoordinir komunitas Guru di Seira
Doakan juga rencana retreat guru di kluster 5.2.5 – Kepuluan Tanimbar yang direncanakan dilakukan tahun 2023.
Terima kasih untuk setiap doa dan dukungan Bapak/Ibu dan semua saudara dalam perjalanan ini yang tidak sempat kami sebutkan satu demi satu. Semoga cerita ini memotifasi kita semua untuk terus bergandengan tangan sambil melangkah maju merebut kota-kota sunyi dan kampus-kampus sunyi untuk Kerajaan Allah. Tuhan yang sudah memanggil kita kiranya menguatkan hati kita semua untuk terus setia sampai Dia datang.
Aku berdoa, semoga dengan kehendak ALLAH aku akhirnya beroleh kesempatan untuk mengunjungi kamu. Sebab aku ingin melihat kamu untuk memberikan karunia rohani kepadamu guna menguatkan kamu, yaitu, supaya aku ada di antara kamu dan turut terhibur oleh iman kita bersama, baik oleh imanmu maupun oleh imanku.
Roma 1:10–12
Inilah janji Tuhan yang mendorong tim subreg 5.3 bersama pendamping dan supervisor subreg 5.3 untuk melakukan perjalanan kunjungan di beberapa kota di subreg 5.3 Papua. Langkah ini diambil sebagai respon atas keyakinan janji Tuhan dari Kejadian 13:14–17.
Setelah Lot berpisah dari pada Abram, berfirmanlah TUHAN kepada Abram: “Pandanglah sekelilingmu dan lihatlah dari tempat engkau berdiri itu ke timur dan barat, utara dan selatan, sebab seluruh negeri yang kaulihat itu akan Kuberikan kepadamu dan kepada keturunanmu untuk selama-lamanya. Dan Aku akan menjadikan keturunanmu seperti debu tanah banyaknya, sehingga, jika seandainya ada yang dapat menghitung debu tanah, keturunanmupun akan dapat dihitung juga. Bersiaplah, jalanilah negeri itu menurut panjang dan lebarnya, sebab kepadamulah akan Kuberikan negeri itu.”
Sebagai pemimpin sub reg 5.3 bung Jermy dan rekan-rekan pimkluster yaitu bung Hadi (kluster 5.3.1), bang Gerson (kluster 5.3.4), bung Chrest (kluster 5.3.5) dan bung Edy (kluster 5.3.6) serta didampingi oleh pendamping dan supervisor subreg 5.3 bung Justi, mulai melakukan kunjungan ke masing-masing kluster di subreg 5.3. Ini merupakan kunjungan pertama sejak pandemi COVID-19 tahun 2020.
Adapun yang menjadi tujuan dari perjalanan ini adalah:
Membangun hati para alumni di kota-kota sunyi untuk berkontribusi bagi pergerakan Injil di suku-suku yang terdalam.
Mendorong kesehatian diantara para almuni agar terbentuk komunitas yang saling mendukung dan melengkapi untuk bergerak ke kanan dan ke kiri dalam lingkup wilayah mereka.
Menyiapkan hati para alumni untuk hidup memuridkan di antara yang terhilang di kota-kota sunyi.
Sorong
Perjalanan pertama adalah kunjungan bung Justi ke Sorong tanggal 30 Maret, bertemu dengan bung Hadi sebagai pimkluster 5.3.1 serta teman-teman alumni di kota Sorong. Mereka semangat sekali untuk berbagi tentang: Mengasihi ALLAH dengan Kasih Mula-Mula
Gambar 1. Bu Justi dan Komunitas Alumni di Kota Sorong
Wamena
Keesokan harinya bung Justi melakukan perjalanan ke Jayapura, tepatnya tanggal 31 Maret 2022. Setelah bertemu dengan beberapa alumni di Jayapura, selanjutnya pada tanggal 1 April, bung Jermy dan bung Justi melakukan perjalanan ke Wamena dan Tiom.
Dengan menggunakan transportasi udara dan menempuh waktu kurang lebih 55 menit, kami tiba di Wamena pukul 13.00 WIT. Kami langsung bertemu dengan bang Gerson yang merupakan pimkluster 5.3.4. Bang Gerson mengajar di STKIP Wamena. Kami berbagi dan menyepakati hal teknis terkait rencana penggembalaan di daerah Wamena, Tiom, dan juga Tolikara.
Gambar. 2 Kel. Gerson, bung Justi dan bung Jermy
Tiom
Keesokan harinya,Sabtu, 2 April 2022 kami melakukan perjalanan dari Wamena menuju ke Tiom ibukota kabupaten Lanny Jaya. Perjalanan dimulai jam 17:00 waktu setempat dan tiba di Tiom jam 19:00 WIT.
Gambar 3. Kami tiba di Tiom
Di Tiom ini kami berencana ketemu dengan para alumni di Tiom pada hari Minggu, 3 April 2022 jam 5 sore. Sebagian besar alumni yang bekerja di Tiom keluarga mereka tinggal di Wamena, sehingga hari Sabtu dan Minggu mereka ke Wamena.
Gambar 4. Kota Tiom
Kami menjalani kota Tiom untuk mendoakan kota ini sesuai janji Tuhan dari Yosua 1:3,5.
Pada sore hari sebelum kami sharing dengan alumni yaitu: Kel. Obatius Wanimbo, Revan, juga dengan salah satu ondoafi bpk. Yakob Kogoya. Kami berkesempatan bersama mereka mendoakan kota Tiom secara khusus dan kabupaten Lanny Jaya.
Gambar 5. Mendoakan kota Tiom bersama Obatius Wanimbo dan Revan Jikwa
Gambar 6. Sharing bersama Kel. Obatius Wanimbo, Revan
Gambar 7. Bung Jermy dan pak Yakob Jikwa
Pada malam hari kami sharing dengan kedua alumni, mendengar kesaksian mereka tentang pekerjaan baik yang sementara dikerjakan ALLAH dalam kehidupan mereka.
Terima kasih untuk apa yang bp hamba lakukan bagi kami, pada waktu kuliah dulu. Kami sungguh merasakan berkat dan pemeliharaan Tuhan bagi kami. Jika kami tidak terlibat dulu, mungkin kami tidak seperti sekarang ini.
Obatius, generasi pertama yang ditolong dalam pemuridan di Jayapura.
Dulu saya biasa jualan Cepos (red: koran) dan bp Jermy bisa datang untuk ajak PA. Sekarang saya rasakan anugerah Tuhan dalam kehidupan saya.
Revan
Mereka menyampaikan terima kasih bagi kunjungan kami.
“Kami selalu mendoakan Obatius dan teman-teman yang ada di Tiom, seperti Anip, Arius, Rina, James, Wemius. Dan kami sudah merencanakan untuk datang ke Tiom, tapi terkendala karena pandemi COVID-19,” kata bung Jermy. Bersyukur hari ini bisa bertemu lagi.
“Suatu kemurahan bagi kami bisa bertemu dengan teman-teman. Kami sungguh memuji Tuhan melihat pekerjaan baik yang sementara Allah kerjakan melalui hidup teman-teman. Tetap semangat dan terus fokus pada Dia,“ kata bung Justi. “Harapan kami teman-teman bisa ketemu dan mendoakan kabupaten Lanny Jaya agar generasi muda Lanny Jaya diselamatkan dan mengalam kekayaan kasih karunia ALLAH.“
Sharing malam itu kami tutup dengan doa bersama dan ucapan terima kasih atas kesediaan mereka menerima dan melayani kami meskipun dengan segala keterbatasan fasilitas, namun kesediaan untuk melayani kami itu menjadi tanda bahwa mereka bertumbuh dalam buah-buah Roh.
Tantangan untuk didoakan:
Mayoritas alumni bekerja di Tiom namun keluarga mereka di Wamena. Kondisi ini tentu menjadi tantangan bagi kehidupan rumah tangga mereka.
Tanggung jawab para alumni yang sebagian besar adalah ASN dan anggota legislatif sehingga menyita waktu untuk memulai pertemuan komunitas di Tiom.
Tantangan politik dan keamanan yang turut mempengaruhi situasi pembangunan dan kehidupan masyarakat di Tiom.
Wamena
Keesokan harinya, kami bersama kel. Obatius kembali ke Wamena. Suatu sukacita kami bisa menginjakan kaki di kota Tiom, medoakan kota itu serta merencanakan pengembangan alumni di kota Tiom.
Gambar 8. Persiapan perjalanan ke Wamena
Selanjutnya di Wamena kami bertemu dengan James Kogoya, salah satu almuni lulusan Universitas Cenderawasih yang merupakan generasi pemuridan yang kedua.
Saya senang sekali bisa ketemu dengan bp Justi dan juga bp. Jermy. Setelah kurang lebih 12 tahun baru kita ketemu lagi. Terima kasih untuk kasih, doa dan perhatiannya bagi saya, sehingga saya bisa kuat menghadapi berbagai tantangan hidup saat ini.
James
“Kami bersyukur juga bisa ketemu dengan James dan teman-teman. Berharap bisa kumpul dan berdoa bersama untuk daerah pegunungan tengah, “ ujar bung Justi. “Nanti teman-teman bisa kumpul pada waktu libur, saya akan ke Wamena untuk kunjungi teman-teman dan kita bisa berdiskusi bersama bagaimana memenangkan anak-anak muda di pegunungan tengah,” sela bung Jermy.
Pertemuan singkat ini diakhiri dengan doa dan harapan untuk bisa bertemu dengan teman-teman semua pada waktu mendatang.
Gambar 9. Bung Jermy, Obatius Wanimbo dan James Kogoya
Selanjutnya pada malam hari kami melanjutkan kunjungan ke kampus STKIP Wamena di Pikhe karena ada ibadah bagi mahasiswa yang tinggal di asrama. Sebenarnya jadwal ibadah setiap hari senin adalah ibadah yang terpisah yakni putra sendiri dan putri sendiri. Namun setelah kami berdiskusi dengan bang Gerson bahwa ini kesempatan bagi kami untuk berbagi maka akhirnya bisa disepakati ibadah tersebut adalah gabungan dan bung Justi yang akan pimpin ibadah tersebut.
Gambar 9. Ibadah di STKIP Wamena yang dipimpin oleh bung Justi
Dengan mengusung tema “Respon Manusia terhadap doa Tuhan Yesus di Kayu Salib”, bu Justi mulai menyampaikan khotbah tentang karya keselamatan yang dikerjakan Tuhan Yesus di kayu salib. Di akhir khotbahnya para mahasiswa ditantang untuk merenungkan karya pengorbanan Kristus di kayu salib mengenai respon ketika mendengar doa Tuhan Yesus “Ya, Bapa, ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat“. Mendengar khotbah tantangan ini, beberapa mahasiswa dengan kesadaran penuh merespon khotbah ini. Suatu sukacita besar oleh karena beberapa mahasiswa berdiri merespon firman Tuhan yang disampaikan.
Sungguh kami memuji Tuhan, oleh karena dukungan doa banyak orang mahasiswa STKIP Wamena bersedia untuk merespon doa Tuhan Yesus di kayu salib.
Gambar 10. Respon Mahasiswa STKIP Wamena terhadap Firman Tuhan yang didengar
Kami bersama kel. bang Gerson bertemu dan mengucap syukur atas apa yang telah Tuhan kerjakan malam itu, dan mendoakan rencana tindak lanjut para mahasiswa yang respon tadi. Selain itu kami juga membesarkan hati bang Gerson dan mendorongnya untuk memulai memuridkan beberapa mahasiswa yang merespon firman Tuhan tadi. Selanjutnya kami mengucap terima kasih bagi bang Gerson sekeluarga yang telah melayani kami selama kami di Wamena.
Gambar 11. Foto bersama keluarga bang Gerson
Tantangan untuk didoakan:
Ibadah di Kampus STKIP Wamena dimotori oleh Pelayanan PERKANTAS bahkan kebijakan pihak kampus bagi mahasiswa yang tidak ikut ibadah dimaksud diabsen untuk menerima ganjaran.
Upaya tindak lanjut bagi para mahasiswa yang telah merespon panggilan Tuhan dalam ibadah tersebut oleh Bang Gerson.
Bang Gerson cukup hati-hati untuk memulai memuridkan para mahasiswa oleh karena berpikir para mahasiswa telah terlibat di PERKANTAS
Bang Gerson ragu-ragu untuk mengambil langkah iman untuk mendoakan mahasiswa dari kampus lain, karena berpikir waktunya tidak ada untuk melayani.
Keesokan harinya kami kembali ke Jayapura, untuk mempersiapkan diri melanjutkan perjalanan kunjungan ke Sarmi. (#part 2)
Gambar 12. Kami siap kembali ke Jayapura untuk perjalanan lanjutan ( #part 2)
Di dalam Kristuslah kita menemukan siapa kita dan untuk apa kita hidup. Jauh sebelum kita mendengar tentang Kristus untuk pertama kali,… Dia telah melihat kita, merancang kita bagi kehidupan yang penuh kemuliaan, bagian dari keseluruhan tujuan yang Dia kerjakan di dalam segala sesuatu dan semua orang.
Efesus 1:11 – MSG
Salah satu dari beberapa bagian Firman Tuhan yang dibagikan oleh Pak Eli Musila di Acara Emeritasi, Sabtu, 15 Januari 2021 yang lalu.
Sekitar 45 tahun lebih, Keluarga Pak Eli Musila terlibat dalam pelayanan ini, berawal dari Kota Bandung, tempat Beliau menempuh bangku kuliah, bergabung dengan teman-teman seangkatan di kampus ITB, belajar dalam kelompok kecil dan setelah itu kembali ke Ambon, merintis dan berlipat ganda dalam melakukan Amanat Agung Kristus.
Acara Emeritasi yang dilangsungkan secara online ini dihadiri oleh sekitar 183 orang (tepatnya: perangkat), sebagian besar dari wilayah regional 5 (Maluku, Maluku Utara, Papua) dengan durasi waktu lebih dari 3 jam. Kami begitu hanyut dalam rangkaian video, mulai dari Tarian beberapa daerah (Halmahera Utara dan Sorong), kesan dari para Alumni di wilayah regional 5, lagu yang dibawakan oleh teman-teman staf di regional 5, juga kesan dari anak-anak Pak Eli (Empy dan Ina), belum lagi foto-foto zaman old yang masih tersimpan dengan rapi….
Ada juga sharing Firman Tuhan yang dibawakan oleh Bang Parlin, Rencana Allah vs Rencana Manusia, belajar dari tokoh Maria, Ibu Yesus dalam kisah di Injil Lukas 1:26-38, Doa yang dibawakan oleh Bung Justi dan Bang Naek menjadi bagian dari Acara malam itu.
Beberapa kesan yang disampaikan oleh rekan-rekan yang mengikuti secara langsung acara emeritasi kel Musila:
Bersyukur mengenal Pak Eli dan Ibu Mei… teladan yg sangat luarbiasa… dankje banyak pak n ibu, kasihnya sangat tulus dan semua yg Pak n Ibu punya, itu jadi milik bersama… luarbiasa. keteladanannya masih segar di hati n ingatan kami (Elles Louise)
Sungguh seperti surat terbuka (Lydia Sitepu)
Selamat memasuki masa emeritasi Bang Elias dan Kak Mery Musila. Terima kasih untuk pelayanan dan contoh iman yang ditunjukkan dalam kehidupan sehari2. Tuhan berkati untuk terus jadi berkat di masa emeritasi. Salam…Yana & Iwan
Saya gak begitu kenal dgn pak Eli, tp setiap bertemu dgn beliau di berbagai forum saya pikir ada sesuatu yg beda dgn orang ini. kesaksian teman-teman yg sdh disentuh oleh pelayanan pak Eli membuktikan rasa penasaran saya. Terima kasih pak (Idaman)
Terima kasih banyak untuk kasih dan pelayanannya, Pak Eli, Ibu Merry, Empi, Ina, Timmy, dan seluruh keluarga. Sungguh kami merasa terberkati. (Debora Situmorang)
Jadi teringat, kira2 10 th lalu ketika Kelompok Wanita Jakarta berlibur ke Ambon, Pak Eli dan Bu Merry mengundang kami ber-10 makan siang dirumahnya..masakan ikan yg sangat enak dan durian dari kebun belakang rumah. Terima kasih Pak Eli dan bu Merry. Tuhan Yesus memberkati senantiasa!! (Uli Sirait)
terimakasih untuk sari-sari pelajaran kehidupan pelayanan dalam keluarga Pak Eli dan Ibu Merry, sungguh menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi saya. TUhan Yesus selalu menyertai Bapak dan Ibu di masa emiritasi tetap berbuah lebat untuk kemuliaan Tuhan. (Teguh)
Sebuah Refleksi Singkat di Akhir Pelayanan Tahun 2021
Yoppy Jutan (Tobelo, Halmahera Utara – Maluku Utara)
Awal tahun 2020 saat Pandemi Covid 19 melanda Indonesia, seluruh akses transportasi tertutup sehingga Kami tidak dapat memasarkan ikan dari nelayan binaan melalui exportir di Manado, Jakarta, dan Bali. Kami belajar untuk tetap tenang dan tinggal di dalam Dia, karena Dia berkata: “Akulah Gembala yang baik!” karena di saat merasakan seperti “terkurung dalam kandang” justru DIA datang dan memberi makanan. Di saat tidak dapat mengirim ikan ke Bali, justru Kami malah mendapatkan pekerjaan lain dari Bali sebagai tenaga konsultan Penataan Zona Rantai Dingin Komoditas Perikanan di Indonesia Timur pada Kawasan Benoa Maritime Tourism Hub di Bali. Dalam kurun waktu 3 bulan kemudian usaha bersama nelayan binaan kembali berjalan secara normal.
Kini, di masa Pandemi tahap ke 2 di tahun 2021, saat usaha Kami bersama nelayan belum genap setahun beroperasi, akhirnya harus benar-benar terhenti dan nota nelayan per tanggal 13 April 2021 adalah bukti transaksi terakhir yang Kami terima dari exportir ikan hias dan karang di Denpasar, Bali. Kali ini bukan karena alasan tertutupnya akses transportasi, tetapi karena berbagai alasan teknis dari nelayan (mereka adalah warga keturunan Philipina), sebagian crew terpaksa memilih kembali ke negara Philipina dengan alasan keperluan mendesak menggunakan armada semut dengan menempuh perjalanan 2 hari 2 malam dari Tobelo. Beberapa diantaranya setelah kembali ke Tobelo, mereka membawa bibit babi dan ayam Philipina untuk menjalani usaha peternakan sebagai pekerjaan transisi.
Awal Juni 2021, setelah memutuskan untuk melakukan istirahat sejenak dan membiarkan sumberdaya ikan karang di alam kembali mengalami recovery sambil menanti semua crew nelayan bersatu kembali, puji Tuhan, disaat bersamaan, justru Kami pun mendapat kontrak kerja sebagai koordinator ahli dalam pekerjaan “Transplantasi Karang” dari Kementerian Lingkungan Hidup. Bersyukur karena melalui pekerjaan ini, dapat turut serta berkontribusi melakukan pemulihan kerusakan ekosistem terumbu karang yang adalah apartemen bawah laut atau rumah bagi ribuan jenis ikan karang (termasuk ikan hias laut yang Kami pasarkan) dan juga jenis-jenis ikan konsumsi yang merupakan sumber pangan bagi manusia di dunia.
Ketika selesai melakukan survey dan memberikan laporan pendahuluan, Kami mendapat berita bahwa kegiatan ini sudah dihapus karena adanya refocusing anggaran APBN untuk penanganan Covid 19. Namun hanya oleh kasih karunia Allah, akhirnya pekerjaan ini dapat dilanjutkan lagi melalui kuasa atau hak aspirasi Anggota DPR RI asal Maluku Utara.
Pekerjaan ini merupakan suatu tantangan tersendiri karena bekerja dibawah laut dan menghabiskan sekitar 100 tabung oksigen untuk melakukan penanaman dan perawatan sekitar 3600 ranting karang pada 160 media keras berupa rangka besi berbentuk spider. Selain menantang, Kami sangat bersyukur karena melalui pekerjaan dengan limit waktu 6 bulan (Juni-November) ini, dapat bekerjasama dengan staf di Badan Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Halmahera Utara dan Marine Center Saro, dan berinteraksi dengan anak-anak muda di komunitas Halmahera Dive Club, mahasiswa dan dosen di Universitas Halmahera, serta memberi edukasi bagi ratusan masyarakat di 2 desa sasaran di Pulau Meti Kecamatan Tobelo Timur dan di Desa Luari, Kecamatan Tobelo Utara, Kabupaten Halmahera Utara, Provinsi Maluku Utara.
Doc. Pribadi: Tim Work Transplantasi Karang
Proses pertumbuhan karang membutuhkan waktu yang cukup lama. Meskipun jenis karang yang Kami pilih adalah karang yang tergolong cepat pertumbuhannya, namun rata-rata jenis karang tersebut justru hanya bertumbuh sekitar 5-6 mm per bulan.
Salah satu syarat utama agar karang dapat tumbuh adalah tersedianya media atau substrat yang keras agar dapat tinggal atau menempel dan bertumbuh dengan baik. Saat berada di kedalaman 5-10 meter dibawah laut, terlihat ada banyak sekali ranting karang yang berserakan dan ada sedikit gejala untuk tumbuh sendiri, namun tidak dapat bertahan lama dan akhirnya mati akibat hempasan gelombang laut dan perubahan pola pergerakan arus bawah laut.
Oleh sebab itu, melalui pekerjaan ini Kami harus menyediakan media berupa kerangka besi dan mengikat bibit karang agar melekat erat pada pokoknya yakni media besi untuk proses penempelan ranting karang. Bersyukur setelah melewati masa 1-3 bulan awal sudah mulai terlihat adanya proses sementasi atau penempelan ranting karang pada pokok besi disertai adanya pertumbuhan tunas baru. Lingkungan sekitar media transplan pun perlahan-lahan mulai berdatangan gerombolan ikan untuk tinggal serta mencari makan diantara apartemen buatan ini.
“Akulah pokok Anggur Yang Benar dan Bapa-Kulah pengusahanya! “Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku.” Yohanes 15:1,4.
Kami akhirnya menarik satu pelajaran bahwa sebagai orang yang dipilih Allah, seharusnya Kami dapat berbuah lebih banyak lagi dalam komunitas dan orang banyak di sekitar, dapat mengembang ke kanan dan ke kiri meluaskan tenda tempat kediaman, melalui berbagai bentuk pelayanan apapun termasuk melalui bisnis ikan yang Kami peroleh dari “apartemen bawah laut” di perairan Halmahera, namun semua itu tidak mungkin dapat berkembang dengan sendirinya, kalau bukan karena Allah ada di dalam Kami. Kami ini hanyalah sebuah ranting, Kami harus selalu datang dan tinggal pada Pokok yaitu Yesus Kristus, sebab di luar Allah (Sang Pengusaha) Kami tidak dapat berbuat apa-apa!