Bersiaplah… Jalanilah… (Papua, Part 2)

Oleh: Jermy Tomasoa

Melanjutkan cerita dari bagian pertama perjalanan penggembalaan ke Papua pada bulan April yang lalu oleh Bung Justi, Bung Jermy, dan Tim Sub Regional 5.3.

JAYAPURA

Selasa, 5 April, kembali ke Jayapura dan sharing bersama Keluarga Pujirahardjo (Mas Samuel dan dr Hety) setelah melakukan vaksin booster di Puskesmas Abepura, tempat dimana dr Hety bekerja.

Bersama Mas Samuel dan Mbak Heti

SARMI

Rabu pagi, melanjutkan perjalanan ke SARMI melalui jalan darat, kira-kira selama 7 jam perjalanan.

SARMI adalah salah satu kabupaten di provinsi Papua. Nama SARMI adalah singkatan dari nama suku-suku besar dari 87 suku  yang ada disana yakni suku Sobey, Armati, Rumbuai, Maniem dan Isirawa

Kami menginap semalam untuk melakukan perjalanan ke kampung Keder Mengunjungi para alumni: Kel Justinus Rijoli (generasi kedua dari pelayanan kampus Ambon, Kel. Lisye Tuankotta dan Andre Labobar). Mereka berprofesi sebagai guru di SMA N 3 di kampung Keder, Justinus menjadi Kepala Sekolah di sana.

Dengan pertolongan Tuhan, kami diberi kesempatan menggunakan beberapa waktu untuk berdiskusi dengan siswa, percakapan berlangsung dengan lancar, hangat dan begitu seru. Mereka memberi respon baik saat bung Justi bertanya kesediaan mereka mendengarkan firman Tuhan. “Menggapai Masa Depan bersama Tuhan” adalah topik yang dibagikan oleh bung Justi. Mereka memberi diri untuk diperdamaikan dengan Tuhan, kami memuji Tuhan untuk pekerjaan-Nya yang ajaib.

Hal yang kami pelajari melalui momen ini:

  • Perlu kepekaan akan pimpinan Roh Kudus
  • Perlu keberanian untuk menyampaikan Injil Kerajaan Allah

Kami diberi kesempatan berbagi dengan para Guru dan sharing secara pribadi dengan Tim di Sarmi (Keder), menguatkan hati dalam setiap pergumulan dan memberi dorongan untuk menjangkau para guru dan siswa untuk Injil.

JAYAPURA

Kembali ke Jayapura hari jumat, 8 April 2022, jam 05.00 WIT. Saya melakukan aktifitas di kantor dan bung Justi melanjutkan agenda pelayanan dengan sharing pribadi dengan teman-teman alumni.

9 April 2022, gathering dengan alumni di Jayapura dalam suasana yang lebih rileks. Pertemuan pasca pandemi ini bertujuan untuk membangun kesehatian dan berkolaborasi dengan para alumni galery Papua untuk pengembangan skill dan ketrampilan dalam dunia usaha supaya setelah lulus dari kampus, mereka bisa memulai usaha dengan tujuan penjangkauan untuk Injil dan mendidik orang lain berkarakter Kristus.

KEROOM

Selesai acara gathering, kami mengunjungi Keluarga Simanjuntak (Romel dan Ika) di Kabupaten Kerom untuk menguatkan hati, mendengarkan pergumulan, dan mendoakan mereka.

Keluarga Simanjuntak

Minggu 10 April 2022, bersekutu bersama keluarga Tomasoa (Jermi, Judi, dan Grace)

keluarga Tomasoa

TIMIKA

Bung Justi melanjutkan perjalanan ke Timika pada Senin, 11 April 2022 pagi, bersama Kel Tehuayo (Kres dan En) sebagai pemimpin kluster 5.3.5. Esok harinya, bung Justi melanjutkan agenda sharing Paskah di tempat bung Kres bekerja sebagai Kepala Sekolah (SMA YPK Timika).

“Respons Manusia atas Doa yang pertama Tuhan Yesus” adalah materi yang dibagikan, diambil dari Lukas 23:33-34. Mengucap syukur untuk pekerjaan Tuhan yang besar disaat guru dan siswa ditantang untuk memberi diri diperdamaikan dengan Tuhan, mereka berdiri dan kami mendoakan mereka.

Acara dilanjutkan dengan sharing bersama para Guru, bagaimana mengubah dunia melalui sekolah dimana mereka bekerja yaitu dimulai dari diri sendiri dengan memberi diri dan bertumbuh dalam kebenaran dan Firman Tuhan.

Beberapa kesan dari Guru dan Siswa:

Saya senang dengan kehadiran bapa Justi disini, Saya senang dengan sharing Firman Tuhan supaya dapat mengubah hidup Saya menjadi lebih baik.

Sintia Mamala (Guru Agama Kristen)

Bapa Justi pimpinnya bagus ya, sangat simpel sekali. Mudah dimengerti. Terima kasih sudah mau datang melayani kami di sini.

Thomas, Guru Kimia

Terima kasih bapa Pattikawa, sudah mau datang ke kami menguatkan kami. Saya akhirnya bisa mengerti bahwa Saya harusnya bukan sekedar guru, tetapi guru yang bisa membawa pesan-pesan Tuhan untuk anak didik Saya.

Aya Wakanno, Guru PKn

Saya ingin menjadi seperti orang yang disalibkan di samping Yesus, yang punya iman yang kuat dan percaya bahwa Tuhan akan datang sebagai Raja untuk menyelamatkan dia.

Joe, siswa

Setelah itu, bu Justi bertemu dengan para alumni di Timika.

bersama alumni di Timika

Saya sangat berterima kasih untuk bapa Justi yang datang ke kami di Timika. Saya sudah dipilih Tuhan, Saya harus sungguh-sungguh dengan Tuhan, mau sama dengan penjahat yang bersama-sama dengan Yesus saat di salibkan, yang masih diberi kesempatan bertemu Tuhan. Saya merasakan banyak hal yang baik (kepuasan abadi). Saya bersyukur karena Tuhan mengutus orang-orang baik untuk hadir dalam hidup Saya.

Yulianus Mote, Mahasiswa UTI (Timika)/ Alumni SMA YPK Timika

Dilanjutkan sharing pribadi bersama bung Krest dan usi En untuk, menguatkan hati untuk terus bersandar dan mempercayai Tuhan dalam segala pergumulan, bahwa kelemahan kita menjadi sarana kebergantungan kita dengan Tuhan dan bagaimana kita dapat bekerja sama secara tim untuk memajukan IKA di Timika.

Kembali ke Jayapura dan bertemu Kel. Bung Yani Alfons. Bersyukur untuk kemurahan Tuhan bagi mereka yang terbeban untuk menjangkau anak-anak muda di Papua melalui dunia usaha.

Kel. Bung Yani Alfons

KARUBAGA

Karubaga, adalah ibukota dari Kabupaten Tolikara.  Ini adalah perjalanan ke-2 setelah tahun 2014.  Kami akan mengunjungi jemaat Filipus dalam rangka perayaan Paskah 2022. Tema perayaan paskah: “Melalui ibadah paskah ini jemaat Filipus dapat mengerti dampak  dari kematian Yesus di kayu salib dan mengambil bagian dalam penderitaan-Nya.  Gembala sidang jemaat Filipus adalah Pak Yakob, yang merupakan salah satu yang ditolong oleh Bung Demianus (alumni Makassar, yang pernah ditolong dr Boko) selain Yhon Wetipo (Timika) dan Panco (almarhum).  Bung Demi dan Pak Yakob mempunyai kerinduan agar di Karabuga orang tidak hanya sekedar beribadah tetapi juga dimuridkan, mereka berdoa supaya jemaat Filipus dapat bertumbuh dalam pemuridan.

Tiba di Wamena Kamis 14 April 2022 siang. Di jemput oleh Pak Yakob, Ainus, dan Lewi yang sengaja datang dari Tolikara untuk menemani kami sebagai penduduk asli selama perjalanan ke Karubaga. Perjalanan Wamena ke Karubaga selama 2,5-3 jam dengan mobil, melewati medan yang menantang (jalanan yang rusak dan sebelah kira kanan jalan adalah jurang).

Perjalanan ke Tolikara kali ini penuh dengan pergumulan, karena adanya penembakan-penambakan yang sering terjadi disana, ditambah trauma yang pernah kami alami di tahum 2014.  Dalam perjalanan ke sana bung Justi sempat berdoa “Tuhan kami yakin Engkau akan menyertai kami dan melindungi kami selama perjalanan ini, dan ada banyak saudara yang mendoakan perjalanan ini, namun kalau karena jiwa-jiwa di Tolikara, nyawa kami harus dikorbankan, jadilah kehendakMu dan jangan kehendak kami”.

Kami tiba sore hari disambut cuaca yang dingin dan listrik yang padam. Kami mendiskusikan agenda Jumat-Minggu, bagaimana bung Justi akan berbagi firman Tuhan di sana.

“Dampak kematian Kristus dan bagimana mengambil bagian di dalamnya”  adalah topik yang dibagikan Jumat pagi, yang dilanjutkan dengan sharing dengan Pak Yakob dan beberapa pelayan sampai pada malam hari tentang Visi Pemuridan dan Amanat Agung Kristus.

Sabtu, 16 April 2022, bung Justi berbagi dari Matius 28:16-20 mengenai “Apakah Anda ingin Membuat Perubahan? Kuncinya adalah Pemuridan“.

Terima kasih bung Justi sudah mengingatkan kembali dan mendorong Saya untuk memulai lagi apa yang pernah Saya alami. kadang Saya merasa kurang percaya diri dan tidak mampu, namun Sharig tadi menguatkan dan memberi Saya motivasi kembali untuk mau memuridkan orag lain

Paulus (pernah dimuridkan dr Boko bersama Demianus dan Sponcor Panjaitan)

Minggu, 17 April 2022, Ibadah minggu Paskah dengan Tema “Kasih Allah yang tidak berubah”. Kami bersyukur untuk pekerjaan Roh kudus dan respons orang-orang atas Firman Tuhan yang dibagikan. 

Sesudahnya bung Justi sharing dengan beberapa anggota jemaat lainnya dan menyemangati anak-anak muda Papua supaya sejak muda mereka hidup sungguh-sungguh dengan Tuhan dan mengalami Tuhan agar itu dapat menjadi referensi untuk mereka menceritakannya kepada orang lain.

Setelah makan siang, kami (saya, bung Justi, Demianus dan Meis) meninggalkan Karubaga kembali ke Wamena.  Berdiskusi saat makan malam, bagaimana memulai mengembangkan komunitas pemuridan di Tolikara.

diskusi ketika makan malam

Bersyukur untuk dasar yang sudah di letakkan bung Demianus di Tolikara.  Juga untuk pekerjaan Tuhan selama 4 hari disana.  Doakan agar Tuhan memberi hikmat kepada bung Yakob dan tim untuk mem-follow-up dan memulai pemuridan di antara jemaat Filipus di Karubaga,  dan doakan bung Demianus juga dalam mendampingi bung Yakob dan Tim dalam follow up.

Tiba di Jayapura, melanjutkan sharing pribadi dengan Keluarga Nanlohy (Adi, Susi dan anak-anak),

Keluarga Nanlohy

MERAUKE

Kami melanjutkan perjalanan dengan pesawat ke Merauke dan tiba selasa pagi. Bersama bung Edy, bung Justi bertemu beberapa keluarga: Keluarga Kuriwosiri (Melky dan Lena, namun Lena sedang ke Jakarta jadi tidak ketemu ), Keluarga  Cahyono (Rian & Eri), Keluarga dr Litha Gultom dan Keluarga Melmambessy, juga bertemu dengan Eby, peserta NavLEAD dari kampus Musamus Merauke.

Rabu 20 April 2022 sore, bung Justi meninggalkan Merauke dan Papua menuju Ambon, melalui Makassar.  Memanfaatkan waktu transit untuk berkunjung ke Keluarga Panjaitan (Sponsor dan Rida) bersama dengan bung Atus Gamar. Sharing tentang dinamika kehidupan dan bagaimana menghidupi dan menjalani panggilan kita dengan semua duka dukanya bersama teman-teman alumni di Makassar. Melanjutkan kembali perjalanan ke bandara dan tiba di Ambon sore itu.

TANTANGAN DAN PERGUMULAN

  1. Tinus sebagai kepala sekolah di Sarmi dengan banyak tugas dan tanggung jawab yang harus dikerjakan sehingga dibutuhkan penyerahan untuk mengkoordinir guru dan juga siswa.
  2. Lisye dan Andre sebagai guru juga memerlukan kapasitas dan komitmen untuk PA dengan para siswa.
  3. Kres Tehuayo sebagai kepala sekolah di Timika punya tanggung jawab yang besar sehingga dibutuhkan hikmat untuk menolong para guru dan siswa bersama-sama dengan isterinya Sentya (En).
  4. Yani Alfons dan Samuel Pujirahardjo sebagai ASN mengkoordinir para alumni di Jayapura untuk memulai pendekatan bisnis guna menjangkau mahasiswa, sehingga dibutuhkan kapasitas, kreativitas dan inovasi.
  5. Demianus Sapan dan Yakob sebagai perintis gereja baru di Tolikara, memiliki kerinduan untuk memulai pemuridan di gereja, dibutuhkan kapasitas dan team work.
  6. Edy Melmambessy bersama tim di Merauke yang memiliki pekerjaan sebagai dosen dan ASN, dibutuhkan hikmat untuk mengelola waktu agar bisa memuridkan.

UCAPAN SYUKUR DAN DOA

  1. Memuji Tuhan untuk pekerjaan Roh Kudus selama penggembalaan di kota-kota di Papua seperti: Sarmi, Timika, Tolikara, Jayapura dan Merauke.
  2. Mengucap syukur untuk penggenapan janji Tuhan dari Yehezkiel 36:37-38, sehingga banyak jiwa yang memberikan dirinya untuk bertobat dan berkomitmen untuk bertumbuh dalam firman Tuhan baik di Sarmi, Timika dan Tolikara.
  3. Mengucap syukur untuk kecukupan perjalanan di Papua sebesar Rp. 46.750.000,- . (empat puluh enam juta tujuh ratus lima puluh  ribu rupiah).
  4. Mengucap syukur untuk tindak lanjut yang telah dilakukan oleh Keluarga Tehuayo sehingga para siswa dan guru yang telah berkomitmen untuk bertumbuh dalam KPA telah memulai PA.
  5. Mengucap syukur untuk tindak lanjut yang telah dilakukan oleh Demianus dan pak Yakob sehingga permuridan sudah mulai jalan di gereja mereka.
  6. Tolong mendoakan Tinus, Lisye dan Andre agar bisa bertumbuh bersama sehingga mempengaruhi para guru untuk dapat belajar bersama sebagai suatu komunitas.  Juga mendoakan mereka agar bisa menindaklanjuti siswa-siswa yang telah mengambil keputusan untuk ditolong bertumbuh menjadi murid Kristus.
  7. Tolong doakan Yani dan Samuel sebagai koordinator tim bisnis untuk mengkoordinir teman-teman alumni di Jayapura dalam rangka membangun kompetensi generasi muda Papua dalam bidang bisnis melalui kampus-kampus swasta sebagai jembatan penjangkauan mahasiswa bagi Injil Kerajaan Allah.
  8. Bersyukur untuk dasar yang sudah di letakkan bung Demianus di Tolikara.  Juga untuk pekerjaan Tuhan selama 4 hari disana.  Doakan agar Tuhan memberi hikmat kepada bung Yakob dan tim untuk mem-follow-up dan memulai pemuridan di antara jemaat Filipus di Karubaga,  dan doakan bung Demianus juga dalam mendampingi bung Yakob dan Tim dalam follow up.
  9. Tolong doakan Edy dan tim di Merauke dalam menggerakan pemuridan di area masing-masing bersama komunitas yang ada, agar terus tumbuh sesuai dengan kemurahan ALLAH.
  10. Tolong doakan Jermy sebagai ASN agar terus bergantung pada hikmat Tuhan serta diberi kapasitas dan hikmat dalam mengelola waktu agar terus mebersarkan hati, mendorong dan memotivasi para pimkluster dan koordinator kota bersama bung Justi sebagai supervisor dan pendamping baik melalui pertemuan online maupun on site.
  11. Bersyukur untuk bp/ibu yang turut berkontribusi melalui pemberian yang diberikan sehingga perjalanan ini dapat terlaksana. Kiranya Tuhan terus memberkati bp/ibu untuk terus bekerjasama menjangkau banyak jiwa untuk kemuliaan Tuhan.
  12. Tolong doakan rencana perjalanan saya dan bung Justi untuk mengunjungi Manokwari dan Wasior pada tanggal 17 Juli sampai dengan 25 Juli 2022, kiranya Tuhan mencukupi kebutuhan biaya yang dibutuhkan serta dipertemukan dengan para mahasiswa yang haus akan firman Tuhan.

Smart for Christ – Retreat Siswa Regional 5

Tuhan ALLAH  telah memberikan kepadaku lidah seorang murid, supaya dengan perkataan aku dapat memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu. Setiap pagi  Ia mempertajam pendengaranku untuk mendengar seperti seorang murid.

Yesaya 50 : 4

Memanfaatkan waktu liburan setelah berakhirnya semester di bulan Juni, Forum Siswa Regional 5 yang dikoordinir oleh Bung Ocep dan Tim telah berkomitmen untuk melaksanakan Retreat Siswa Regional 5 secara virtual yang dilaksanakan pada tanggal 27-29 Juni yang lalu.

Retreat dengan Tema “Smart for Christ” dari Yesaya 50:4 dengan 5 topik:

  • Aku Berharga, Kamu juga
  • Chat dengan Tuhan
  • Tanggung Jawabku Belajar, kalau kamu?
  • Berani Tampil Beda
  • I have a dream

Yang dibawakan oleh: Bung Nus, Bung Jermy, Bung Roy, Bung Yoppy, dan Bung Justi mendapat respon yang luar biasa dari para siswa. Diikuti oleh sekitar 100 lebih peserta, mulai dari jenjang Sekolah Dasar (yang paling muda usia 7 tahun atau SD kelas 1) hingga yang akan masuk ke Perguruan Tinggi dari sub regional 5.1 (Tobelo), sub regional 5.2 (Masohi, Tual, Elat, Seira, Saumlaki, Dobo, Moa), sub regional 5.3 (Timika dan Jayapura) dan peserta regional 5 yang berada di luar kota (Solo dan Jogja).

Rangkaian acara, penyampaian materi Firman Tuhan diselingi dengan sharing dalam kelompok dan games semakin membuat peserta seperti enggan untuk berpisah, bahkan 3 hari bagi mereka tidaklah cukup, ada yang masih ingin menambah waktu pelaksanaan retreat ini menjadi 1 minggu, bahkan kerinduan dan doa mereka, supaya acara ini bisa dilaksanakan secara langsung, offline, bertemu muka dengan muka.

Kami memuji Tuhan untuk pekerjaan-Nya yang besar, pada saat penyampaian materi terakhir, I have a Dream, salah satu pelajaran dari tokoh Yusuf , sang pemimpi, yang takut akan Tuhan sehingga Tuhan menjadikannya berhasil, dan beberapa point penting lainnya, para peserta ditantang untuk menyerahkan hidupnya dipakai Tuhan, hampir sebagian besar anak-anak mengangkat tangan mereka, tanda bahwa mereka mau membuka hati kepada Sang Juruselamat, menjadi satu-satunya Tuhan dalam hidup mereka.

Kami berdoa, kiranya melalui orang-orang muda ini, ada sukacita yang besar di Sorga, karena yang terhilang akan diperdamaikan dengan Sang Pencipta dan menduduki kota-kota yang sunyi.

Kesan Peserta dari Timika

Beberapa kesan dari para peserta:

Kami bersyukur bisa mengikuti kegiatan ini. Kami belajar bahwa, jika kami memiliki mimpi, tidaklah merasa tak mampu, karena mimpi itu menggerakan kami mencapai cita-cita, asalkan kami selalu mengandalkan Tuhan .

Tim Tobelo

Kami sangat senang, sangat bersyukur boleh mengikuti kegiatan ini, mendapat pelajaran baru yang tidak pernah kami dapatkan sebelumnya, kami senang bisa bertemu dengan teman-teman dari tempat yang berbeda, sekalipun secara online, apa yang kami dapat sangat mempengaruhi hidup kami, kami belajar untuk lebih lagi dekat dengan Tuhan, takut akan Tuhan, menjadi berkat untuk banyak orang, tidak boleh ada iri hati melihat kesuksesan orang lain.

Tim Maluku (Masohi,Tual, Elat, Seira, Saumlaki, Dobo, Moa)

Kami bersyukur karena bisa mengikuti kegiatan ini, merasakan perubahan dalam diri kami, mulai berdoa tiap malam, memang ini suatu keharusan bagi kami, dan juga kami menjadi semakin dikuatkan dalam menghadapi segala sesuatu.

Tim Papua

PERJALANAN MOBILE ALONGSIDER SUB REG 5.3 #Part 1

Aku berdoa, semoga dengan kehendak ALLAH aku akhirnya beroleh kesempatan untuk mengunjungi kamu. Sebab aku ingin melihat kamu untuk memberikan karunia rohani kepadamu guna menguatkan kamu, yaitu, supaya aku ada di antara kamu dan turut terhibur oleh iman kita bersama, baik oleh imanmu maupun oleh imanku.

Roma 1:10–12

Inilah janji Tuhan yang mendorong tim subreg 5.3 bersama pendamping dan supervisor subreg 5.3 untuk melakukan perjalanan kunjungan di beberapa kota di subreg 5.3 Papua. Langkah ini diambil sebagai respon atas keyakinan janji Tuhan dari Kejadian 13:14–17.

Setelah Lot berpisah dari pada Abram, berfirmanlah TUHAN kepada Abram:Pandanglah sekelilingmu dan lihatlah dari tempat engkau berdiri itu ke timur dan barat, utara dan selatan, sebab seluruh negeri yang kaulihat itu akan Kuberikan kepadamu dan kepada keturunanmu untuk selama-lamanya. Dan Aku akan menjadikan keturunanmu seperti debu tanah banyaknya, sehingga, jika seandainya ada yang dapat menghitung debu tanah, keturunanmupun akan dapat dihitung juga. Bersiaplah, jalanilah negeri itu menurut panjang dan lebarnya, sebab kepadamulah akan Kuberikan negeri itu.”

Sebagai pemimpin sub reg 5.3 bung Jermy dan rekan-rekan pimkluster yaitu bung Hadi (kluster 5.3.1), bang Gerson (kluster 5.3.4), bung Chrest (kluster 5.3.5) dan bung Edy (kluster 5.3.6) serta didampingi oleh pendamping dan supervisor subreg 5.3 bung Justi, mulai melakukan kunjungan ke masing-masing kluster di subreg 5.3. Ini merupakan kunjungan pertama sejak pandemi COVID-19 tahun 2020.

Adapun yang menjadi tujuan dari perjalanan ini adalah:

  1. Membangun hati para alumni di kota-kota sunyi untuk berkontribusi bagi pergerakan Injil di suku-suku yang terdalam.
  2. Mendorong kesehatian diantara para almuni agar terbentuk komunitas yang saling mendukung dan melengkapi untuk bergerak ke kanan dan ke kiri dalam lingkup wilayah mereka.
  3. Menyiapkan hati para alumni untuk hidup memuridkan di antara yang terhilang di kota-kota sunyi.

Sorong

Perjalanan pertama adalah kunjungan bung Justi ke Sorong tanggal 30 Maret, bertemu dengan bung Hadi sebagai pimkluster 5.3.1 serta teman-teman alumni di kota Sorong. Mereka semangat sekali untuk berbagi tentang: Mengasihi ALLAH dengan Kasih Mula-Mula

Wamena

Keesokan harinya bung Justi melakukan perjalanan ke Jayapura, tepatnya tanggal 31 Maret 2022. Setelah bertemu dengan beberapa alumni di Jayapura, selanjutnya pada tanggal 1 April, bung Jermy dan bung Justi melakukan perjalanan ke Wamena dan Tiom.  

Dengan menggunakan transportasi udara dan menempuh waktu kurang lebih 55 menit, kami tiba di Wamena pukul 13.00 WIT. Kami langsung bertemu dengan bang Gerson yang merupakan pimkluster 5.3.4. Bang Gerson mengajar di STKIP Wamena. Kami berbagi dan menyepakati hal teknis terkait rencana penggembalaan di daerah Wamena, Tiom, dan juga Tolikara.

Tiom

Keesokan harinya,Sabtu, 2 April 2022 kami melakukan perjalanan dari Wamena menuju ke Tiom ibukota kabupaten Lanny Jaya. Perjalanan dimulai jam 17:00 waktu setempat dan tiba di Tiom jam 19:00 WIT.

Gambar 3. Kami tiba di Tiom

Di Tiom ini kami berencana ketemu dengan para alumni di Tiom pada hari Minggu, 3 April 2022 jam 5 sore. Sebagian besar alumni yang bekerja di Tiom keluarga mereka tinggal di Wamena, sehingga hari Sabtu dan Minggu mereka ke Wamena.

Kami menjalani kota Tiom untuk mendoakan kota ini sesuai janji Tuhan dari Yosua 1:3,5.

Pada sore hari sebelum kami sharing dengan alumni yaitu: Kel. Obatius Wanimbo, Revan, juga dengan salah satu ondoafi bpk. Yakob Kogoya. Kami berkesempatan bersama mereka mendoakan kota Tiom secara khusus dan kabupaten Lanny Jaya.

Gambar 5. Mendoakan kota Tiom bersama Obatius Wanimbo dan Revan Jikwa

Gambar 6. Sharing bersama Kel. Obatius Wanimbo, Revan

Gambar 7. Bung Jermy dan pak Yakob Jikwa

Pada malam hari kami sharing dengan kedua alumni, mendengar kesaksian mereka tentang pekerjaan baik yang sementara dikerjakan ALLAH dalam kehidupan mereka.

Terima kasih untuk apa yang bp hamba lakukan bagi kami, pada waktu kuliah dulu. Kami sungguh merasakan berkat dan pemeliharaan Tuhan bagi kami. Jika kami tidak terlibat dulu, mungkin kami tidak seperti sekarang ini.

Obatius, generasi pertama yang ditolong dalam pemuridan di Jayapura.

Dulu saya biasa jualan Cepos (red: koran) dan bp Jermy bisa datang untuk ajak PA. Sekarang saya rasakan anugerah Tuhan dalam kehidupan saya.

Revan

Mereka menyampaikan terima kasih bagi kunjungan kami.

Kami selalu mendoakan Obatius dan teman-teman yang ada di Tiom, seperti Anip, Arius, Rina, James, Wemius. Dan kami sudah merencanakan untuk datang ke Tiom, tapi terkendala karena pandemi COVID-19,” kata bung Jermy. Bersyukur hari ini bisa bertemu lagi.

Suatu kemurahan bagi kami bisa bertemu dengan teman-teman. Kami sungguh memuji Tuhan melihat pekerjaan baik yang sementara Allah kerjakan melalui hidup teman-teman. Tetap semangat dan terus fokus pada Dia,“ kata bung Justi. “Harapan kami teman-teman bisa ketemu dan mendoakan kabupaten Lanny Jaya agar generasi muda Lanny Jaya diselamatkan dan mengalam kekayaan kasih karunia ALLAH.

Sharing malam itu kami tutup dengan doa bersama dan ucapan terima kasih atas kesediaan mereka menerima dan melayani kami meskipun dengan segala keterbatasan fasilitas, namun kesediaan untuk melayani kami itu menjadi tanda bahwa mereka bertumbuh dalam buah-buah Roh.

Tantangan untuk didoakan:

  1. Mayoritas alumni bekerja di Tiom namun keluarga mereka di Wamena. Kondisi ini tentu menjadi tantangan bagi kehidupan rumah tangga mereka.
  2. Tanggung jawab para alumni yang sebagian besar adalah ASN dan anggota legislatif sehingga menyita waktu untuk memulai pertemuan komunitas di Tiom.
  3. Tantangan politik dan keamanan yang turut mempengaruhi situasi pembangunan dan kehidupan masyarakat di Tiom.

Wamena

Keesokan harinya, kami bersama kel. Obatius kembali ke Wamena. Suatu sukacita kami bisa menginjakan kaki di kota Tiom, medoakan kota itu serta merencanakan pengembangan alumni di kota Tiom.

Selanjutnya di Wamena kami bertemu dengan James Kogoya, salah satu almuni lulusan Universitas Cenderawasih yang merupakan generasi pemuridan yang kedua.

Saya senang sekali bisa ketemu dengan bp Justi dan juga bp. Jermy. Setelah kurang lebih 12 tahun baru kita ketemu lagi. Terima kasih untuk kasih, doa dan perhatiannya bagi saya, sehingga saya bisa kuat menghadapi berbagai tantangan hidup saat ini.

James

Kami bersyukur juga bisa ketemu dengan James dan teman-teman. Berharap bisa kumpul dan berdoa bersama untuk daerah pegunungan tengah, “ ujar bung Justi. “Nanti teman-teman bisa kumpul pada waktu libur, saya akan ke Wamena untuk kunjungi teman-teman dan kita bisa berdiskusi bersama bagaimana memenangkan anak-anak muda di pegunungan tengah,” sela bung Jermy.

Pertemuan singkat ini diakhiri dengan doa dan harapan untuk bisa bertemu dengan teman-teman semua pada waktu mendatang.

Gambar 9. Bung Jermy, Obatius Wanimbo dan James Kogoya

Selanjutnya pada malam hari kami melanjutkan kunjungan ke kampus STKIP Wamena di Pikhe karena ada ibadah bagi mahasiswa yang tinggal di asrama. Sebenarnya jadwal ibadah setiap hari senin adalah ibadah yang terpisah yakni putra sendiri dan putri sendiri. Namun setelah kami berdiskusi dengan bang Gerson bahwa ini kesempatan bagi kami untuk berbagi maka akhirnya bisa disepakati ibadah tersebut adalah gabungan dan bung Justi yang akan pimpin ibadah tersebut.

Dengan mengusung tema “Respon Manusia terhadap doa Tuhan Yesus di Kayu Salib”, bu Justi mulai menyampaikan khotbah tentang karya keselamatan yang dikerjakan Tuhan Yesus di kayu salib. Di akhir khotbahnya para mahasiswa ditantang untuk merenungkan karya pengorbanan Kristus di kayu salib mengenai respon ketika mendengar doa Tuhan Yesus “Ya, Bapa, ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat“.  Mendengar khotbah tantangan ini, beberapa mahasiswa dengan kesadaran penuh merespon khotbah ini. Suatu sukacita besar oleh karena beberapa mahasiswa berdiri merespon firman Tuhan yang disampaikan.

Sungguh kami memuji Tuhan, oleh karena dukungan doa banyak orang mahasiswa STKIP Wamena bersedia untuk merespon doa Tuhan Yesus di kayu salib.

Kami bersama kel. bang Gerson bertemu dan  mengucap syukur atas  apa yang telah Tuhan kerjakan malam itu, dan mendoakan rencana tindak lanjut para mahasiswa yang respon tadi. Selain itu kami juga membesarkan hati bang Gerson dan mendorongnya untuk memulai memuridkan beberapa mahasiswa yang merespon firman Tuhan tadi. Selanjutnya kami mengucap terima kasih bagi bang Gerson sekeluarga yang telah melayani kami selama kami di Wamena.

Gambar 11. Foto bersama keluarga bang Gerson

Tantangan untuk didoakan:

  1. Ibadah di Kampus STKIP Wamena dimotori oleh Pelayanan PERKANTAS bahkan kebijakan pihak kampus bagi mahasiswa yang tidak ikut ibadah dimaksud diabsen untuk menerima ganjaran.
  2. Upaya tindak lanjut bagi para mahasiswa yang telah merespon panggilan Tuhan dalam ibadah tersebut oleh Bang Gerson.
  3. Bang Gerson cukup hati-hati untuk memulai memuridkan para mahasiswa oleh karena berpikir para mahasiswa telah terlibat di PERKANTAS
  4. Bang Gerson ragu-ragu untuk mengambil langkah iman untuk mendoakan mahasiswa dari kampus lain, karena berpikir waktunya tidak ada untuk melayani.

Keesokan harinya kami kembali ke Jayapura, untuk mempersiapkan diri melanjutkan perjalanan kunjungan ke Sarmi. (#part 2)

Gambar 12. Kami siap kembali ke Jayapura untuk perjalanan lanjutan ( #part 2)

Perjalanan Pelayanan Keluarga Pak Eli Musila (Emeritasi)

Di dalam Kristuslah kita menemukan siapa kita dan untuk apa kita hidup. Jauh sebelum kita mendengar tentang Kristus untuk pertama kali,… Dia telah melihat kita, merancang kita bagi kehidupan yang penuh kemuliaan, bagian dari keseluruhan tujuan yang Dia kerjakan di dalam segala sesuatu dan semua orang.

Efesus 1:11 – MSG

Salah satu dari beberapa bagian Firman Tuhan yang dibagikan oleh Pak Eli Musila di Acara Emeritasi, Sabtu, 15 Januari 2021 yang lalu.

Sekitar 45 tahun lebih, Keluarga Pak Eli Musila terlibat dalam pelayanan ini, berawal dari Kota Bandung, tempat Beliau menempuh bangku kuliah, bergabung dengan teman-teman seangkatan di kampus ITB, belajar dalam kelompok kecil dan setelah itu kembali ke Ambon, merintis dan berlipat ganda dalam melakukan Amanat Agung Kristus.

Acara Emeritasi yang dilangsungkan secara online ini dihadiri oleh sekitar 183 orang (tepatnya: perangkat), sebagian besar dari wilayah regional 5 (Maluku, Maluku Utara, Papua) dengan durasi waktu lebih dari 3 jam. Kami begitu hanyut dalam rangkaian video, mulai dari Tarian beberapa daerah (Halmahera Utara dan Sorong), kesan dari para Alumni di wilayah regional 5, lagu yang dibawakan oleh teman-teman staf di regional 5, juga kesan dari anak-anak Pak Eli (Empy dan Ina), belum lagi foto-foto zaman old yang masih tersimpan dengan rapi….

Ada juga sharing Firman Tuhan yang dibawakan oleh Bang Parlin, Rencana Allah vs Rencana Manusia, belajar dari tokoh Maria, Ibu Yesus dalam kisah di Injil Lukas 1:26-38, Doa yang dibawakan oleh Bung Justi dan Bang Naek menjadi bagian dari Acara malam itu.

Beberapa kesan yang disampaikan oleh rekan-rekan yang mengikuti secara langsung acara emeritasi kel Musila:

Bersyukur mengenal Pak Eli dan Ibu Mei… teladan yg sangat luarbiasa… dankje banyak pak n ibu, kasihnya sangat tulus dan semua yg Pak n Ibu punya, itu jadi milik bersama… luarbiasa. keteladanannya masih segar di hati n ingatan kami (Elles Louise)

Sungguh seperti surat terbuka (Lydia Sitepu)

Selamat memasuki masa emeritasi Bang Elias dan Kak Mery Musila. Terima kasih untuk pelayanan dan contoh iman yang ditunjukkan dalam kehidupan sehari2. Tuhan berkati untuk terus jadi berkat di masa emeritasi. Salam…Yana & Iwan

Saya gak begitu kenal dgn pak Eli, tp setiap bertemu dgn beliau di berbagai forum saya pikir ada sesuatu yg beda dgn orang ini. kesaksian teman-teman yg sdh disentuh oleh pelayanan pak Eli membuktikan rasa penasaran saya. Terima kasih pak (Idaman)

Terima kasih banyak untuk kasih dan pelayanannya, Pak Eli, Ibu Merry, Empi, Ina, Timmy, dan seluruh keluarga. Sungguh kami merasa terberkati. (Debora Situmorang)

Jadi teringat, kira2 10 th lalu ketika Kelompok Wanita Jakarta berlibur ke Ambon, Pak Eli dan Bu Merry mengundang kami ber-10 makan siang dirumahnya..masakan ikan yg sangat enak dan durian dari kebun belakang rumah.  Terima kasih Pak Eli dan bu Merry. Tuhan Yesus memberkati senantiasa!! (Uli Sirait)

terimakasih untuk sari-sari pelajaran kehidupan pelayanan dalam keluarga Pak Eli dan Ibu Merry, sungguh menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi saya.  TUhan Yesus selalu menyertai Bapak dan Ibu di masa emiritasi tetap berbuah lebat untuk kemuliaan Tuhan. (Teguh)